Kesekian kalinya logika dan hati tak searah, logika berkata "iya" dan hati berkata "tidak". Sedikit membingungkan memang, akal sehat tidak lagi berlaku ketika ego memuncak.
Sering kali logika mengingatkan hati tentang sebuah pengharapan. Mengingatkan untuk tak mudah meletakkan harapan di hati lain, yang belum jelas ia hanya sekedar singgah atau menetap. Namun tak ada gunanya peringatan jika ego telah menguasai hati. Hati akan tetap meletakkan harapan pada siapa dia yang singgah, pembawa rayuan manis.
Hati akan sadar jika ia telah salah langkah ketika ia telah ditinggalkan, dicampakkan oleh ia yang hanya singgah. Bukan pengalaman pertama memang, tapi buat apa pengalaman jika ego telah menguasai jiwa. Walau sudah tau pada akhirnya akan terluka, ia akan tetap melakukan. Mengenaskan memang, ketika hidup tanpa logika.
Seorang manusia akan tersakiti oleh dirinya sendiri, perperangan antar logika dan hati akan memunculkan keresahan. Dan pengharapan yang telah diletakkan pada tempat yang salah akan menimbulkan luka. Sayangnya, manusia tak pernah menyerah akan pengharapan. Padahal ia tau semua akan berakhir "luka".
Aku meletakkan harapan pada dia yang datang, dan aku tau suatu saat ada kemungkinan dia pergi meninggalkan.
Aku sadar atas semua itu.
Aku membuka jalan untuk lukaku sendiri.
Aku terluka karena Aku.


