Jika harapku salah, mungkin aku harus terdiam. Diam, cukup menikmati yang ada di depan mata. dan berhenti untuk memaksakan takdir. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkanku, bahwa berharap dengan manusia akan berakhir dengan luka. Aku tau itu, dan sadar atas kesalahanku. Tapi siapa yang bisa mengendalikan arah hati? manusia hanya bisa mengkondisikan agar diri tak melakukan hal yang melampaui batas.
Mungkin aku memang harus pergi dari ke-duanya, atau mungkin ini balasan untukku karena pernah mengabaikan seseorang. Sungguh, tak pernah ada niatan untuk mengabaikan. Tapi hati tidak rela jika ada seseorang yang berharap denganku, tapi aku tak mengharapkannya. Aku tau sakitnya mengharapkan tanpa diharapkan kembali, maka dari itu aku tak mau orang lain mengalaminya. Kini aku yang merasakan sakit itu kembali, sakit karena harapanku sendiri.
Tuhan aku tau ini semua kehendakmu, tapi bolehkah aku memohon? biarkan aku berdamai dengan diriku sendiri, tanpa ada harapan untuk seseorang menemaniku di
masa depan.
23 September 2020, pada hari itu aku tersadar kembali. Tersadar atas harapan yang seharusnya tak aku berikan pada manusia. Karena berharap pada manusia pasti akan berakhir kecewa. Aku tau salah, tapi bukannya wajar jika aku ingin dihargai? bukankah wajar jika aku juga ingin dimengerti? bukan terus menerus mengerti orang lain. Iya aku memang berusaha bersikap baik ke siapapun, tapi tolong mengertilah. Aku bersikap baik ke kalian karena aku percaya kalian manusia-manusia yang baik, jadi jangan hancurkan kepercayaan itu. Sekalinya aku kecewa, hilang sudah kepedulianku.
Aku tau, disini aku hanya dibutuhkan. Aku tau, sebenarnya keberadaanku tidak diharapkan. Jadi hal-hal kecil yang mungkin aku lakukan tak akan pernah terlihat. Iya, banyak hal kecil tak terlihat oleh manusia. Tapi aku yakin Tuhan-ku melihat itu semua, hal sekecil apapun itu. Jadi aku tidak akan menyerah untuk melakukan hal baik kepada siapapun, walau apa yang aku lakukan belum tentu dinilai baik oleh mereka.
Semangat :)