Selasa, 05 Desember 2017

Diam dalam Bimbang

Diam, diam, dan diam. Tanpa diri ini sadari, tubuh dan pikiran terdiam dalam satu titik. Merenung untuk mengambil langkah pasti, terlalu lama hingga bosan. Aku tidak mengerti harus menulis apa, menulis tentang apa. Ada sejuta manik-manik yang sedang berputar-putar dikepala mungil ini. Terlalu banyak manik, hingga membuat setetes tinta pun tidak mampu untuk menembus. Lelah, fisik maupun pikiran. Ujung jalan masih panjang, masih ada jalan yang lebih terjal yang harus dilalui. Tubuh ini terasa menolak namun hati selalu berkata sabar. Ketika otak memaksa untuk istirahat, hati selalu berbisik "Cukupkan istirahatmu, jangan terlalu lama. Ujung jalanmu masih belum tampak." 

Menapaki jalan terjal selangkah demi langkah, mengais butiran tinta untuk menyongsong kesejahteraan masa depan. Lelah yang tak mampu diungkapkan akan menjadi kepuasan dalam keberhasilan. Hidupmu yang kamu sesali merupakan kehidupan yang orang lain harapkan. Terus bersyukur dalam berjuang. Lelahmu ibadahmu dan suksesmu keberkahan jalan hidupmu.

Jalan hidup tak ada yang tahu,
Hanya berjalan menyusuri angin berlalu,
Tanpa tahu kapan waktu berlalu,
Hingga air mata lelah, tiba-tiba menetes,
Berharap perjuangan segera berlalu,
dan menemui kehidupan baru.
Tanpa ada rasa sakit yang sungguh,

Aku mau,
Cukup menyambut ufuk pagi dari timur,
dan mengantar senja diujung barat,
Tersenyum diterpa angin semilir,
Menatap daun yang tak henti bergerak,
dan terdiam mendengar kicau burung udara.

Namun sayang keinginanmu dengan jalan yang telah ditentukan, berbeda.
Cukuplah berkata Terima Kasih.

Senin, 04 Desember 2017

Terulang Kembali

Kemarin kamu datang kembali dalam hidupku, dan aku tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya. Aku termakan lagi oleh kata manismu, aku terjatuh kembali dalam jurang hatimu yang menyakitkan. Aku rapuh untuk kesekian kalinya. Tidak mampu melepasmu dengan cepat, tidak mampu menghapusmu dalam ingatanku secara instan. Kenapa kamu harus datang jika hanya ingin menorehkan luka. Aku manusia biasa, bukan seorang yang spesial dan kuat. Aku mempunyai kelemahan, bisa hancur tanpa peduli waktu dan tempat. Kamu masih tega membuat hati ini tercabik untuk kedua kalinya. Kenapa kamu melakukan itu? berkatalah jujur. Jujur aku merindukanmu dalam diammu. Aku bahagia ketika kamu kembali kepadaku, namun aku sakit ketika kamu kembali menghempaskanku.

Aku sadar aku perempuan bodoh yang masih mengharapkan seseorang yang pernah menyakitiku. Otakku selalu memerintah fisik ini untuk pergi menjauh darimu, dan tidak lagi mengharapkanmu. Tetapi hatiku berkata sebaliknya, hatiku terus mengajak fisik ini semakin mendekat denganmu berharap denganmu lagi dan lagi. Walaupun sudah tahu akan ada lagi luka yang muncul, bahkan semakin dalam.

Bahagialah dengan jalanmu. Abaikan aku yang terombang-ambing dalam angin yang tidak mengerti arah. Jangan pernah kembali dengan hati ini yang sakit begitu parah. Kamu bahagia aku-pun bahagia. Karena bahagiaku adalah ketika melihat kamu bahagia. Aku akan mencoba bersabar dalam menghadapimu. Menghadapi seseorang yang begitu sering menyayat luka untukku dan kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

Terima kasih pernah singgah, dan terima kasih juga telah membuat hatiku semakin kuat.


About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥