Diam, diam, dan diam. Tanpa diri ini sadari, tubuh dan pikiran terdiam dalam satu titik. Merenung untuk mengambil langkah pasti, terlalu lama hingga bosan. Aku tidak mengerti harus menulis apa, menulis tentang apa. Ada sejuta manik-manik yang sedang berputar-putar dikepala mungil ini. Terlalu banyak manik, hingga membuat setetes tinta pun tidak mampu untuk menembus. Lelah, fisik maupun pikiran. Ujung jalan masih panjang, masih ada jalan yang lebih terjal yang harus dilalui. Tubuh ini terasa menolak namun hati selalu berkata sabar. Ketika otak memaksa untuk istirahat, hati selalu berbisik "Cukupkan istirahatmu, jangan terlalu lama. Ujung jalanmu masih belum tampak."
Menapaki jalan terjal selangkah demi langkah, mengais butiran tinta untuk menyongsong kesejahteraan masa depan. Lelah yang tak mampu diungkapkan akan menjadi kepuasan dalam keberhasilan. Hidupmu yang kamu sesali merupakan kehidupan yang orang lain harapkan. Terus bersyukur dalam berjuang. Lelahmu ibadahmu dan suksesmu keberkahan jalan hidupmu.
Jalan hidup tak ada yang tahu,
Hanya berjalan menyusuri angin berlalu,
Tanpa tahu kapan waktu berlalu,
Hingga air mata lelah, tiba-tiba menetes,
Berharap perjuangan segera berlalu,
dan menemui kehidupan baru.
Tanpa ada rasa sakit yang sungguh,
Aku mau,
Cukup menyambut ufuk pagi dari timur,
dan mengantar senja diujung barat,
Tersenyum diterpa angin semilir,
Menatap daun yang tak henti bergerak,
dan terdiam mendengar kicau burung udara.
Namun sayang keinginanmu dengan jalan yang telah ditentukan, berbeda.
Cukuplah berkata Terima Kasih.


0 komentar:
Posting Komentar