Selasa, 28 November 2017

Rindu

Dalam diam ada air mata yang mengalir. Dalam sunyi ada rindu yang menyeruak. Untuk hari ini kisah cintaku masih belum sempurna, karena kamu belum berada disisiku. Namun aku masih mampu bahagia, karena tanpamu aku harus selalu bahagia. Duniaku tidak selalu bersamamu, bersama yang lain juga perlu. Bahagia untuk diri sendiri juga perlu. Cinta memang menyenangkan, namun terkadang cinta tidak tahu tempat dan kondisi untuk datang. Luka yang dalam tertutup cinta sesaat, dan berakhir menimbulkan luka yang lebih dalam. Terbiasa mendengar kisah "Ditinggal pergi ketika memasuki tahap sayang-sayangnya." Terlalu sering mendengar, dan sesekali berpengalaman. Untukmu, terima kasih pernah singgah dan terima kasih juga pernah menghempaskan serta memberi luka.

Saat ini rindu untukmu mulai tumbuh kembali, sejalan denganmu yang terkadang sedikit berkicau. Rindu kamu yang dulu pernah perhatikanku dibanyak waktu, dan rindu kamu yang selalu membuatku tersenyum. Rinduku merindukan kamu rindu aku. Rinduku merindukan disaat mendengar suara merdumu. Rinduku merindukanmu saat tertawa lepas tanpa sebab yang lucu. Rinduku merindukanmu yang pernah tersenyum karenaku dan untukku. Rindu itu semakin mengembang setiap waktu, tanpa tahu batasan tertentu.

Awan mendung tebal belum tentu akan turun hujan, seperti kamu yang dulu sangat perhatian tapi belum tentu mampu bertahan. Karena hati hanya akan bosan tanpa perkembangan, dan rasa sakit menunggu tidak akan lama bertahan. Meninggalkan merupakan satu-satunya jalan selain menunggu suatu yang menggantung tanpa kejelasan. Seperti rindu yang terasa hambar, karena rindu ini hanya aku yang merasakan.

Rindu Senyumu

Sabtu, 25 November 2017

Melodi Hati


Dalam melodi yang terlupakan,
Hati terkikis dalam detik berjumpa,
Jantung gempar dalam menit bertatap,
Fisik runtuh tak bertenaga dalam diam berhadapan,
Hanya otak yang memaksa untuk kuat,
Hanya melodi batin yang memaksa untuk bertahan.
Namun dunia tak mendukung keduanya.
Runtuh, hancur lebur dalam waktu sekejap.

Kamu yang menghadirkan kembali senyumku, dan kamu juga yang memberi luka yang semakin dalam.
Manarik ulur  hati ini.

Saat ini dunia memang berpihak denganmu,
Tapi ingat, suatu saat karma akan bermain denganmu.

Untuk sesaat luka itu memberatkan
Namun beriringan dengan jalannya waktu, luka itu pelan-pelan sirna.
Menyisakan rindu tersakiti.
Namun fisik ini menolak untuk tersakiti,
Otak, hati, dan fisik tak lagi sejalan
Karena kamu.

Luka


Ada banyak cerita yang pernah terukir bersama, mengikis ruang dan waktu yang saling berdampingan. Hampir semua orang pernah berpikir  dunia ini tidak adil, tapi setelah dicerna lebih dalam hanya dunia ini-lah yang paling adil. Hanya dunia ini yang memberikan kebahagiaan setelah adanya luka, dan hanya dunia ini yang menghadirkan senyuman lebar setelah rasa sakit yang bertubi-tubi. Terima kasih telah sayang dengan penghunimu, untuk Tuhan yang menciptakan segalanya tiada kata yang bisa tertuliskan. 

Dulu dia yang menyayangi telah Kau ambil, kau lebih sayang dengannya. Rasa syukur tiada tara karena Kau tidak memberi rasa sakit yang lebih lama. 

Ada banyak hal yang ingin diucapkan, namun tak tahu apa itu. Hati serasa lemah namun mencoba kuat. Jantung berdetak tidak aturan, rasa cemas terus meningkat. Rindu, telah lama tak bertemu dengannya dan kabar terakhir dia telah tiada. Memang bukan salah seorang, tapi tidak tahu dari ujung mana rasa kecewa sejenak hadir merisaukan keadaan. 

Ini bukan candaan, ini fakta yang telah terjadi. Ada luka yang harus disembuhkan, ada rindu yang harus dituntaskan. Semua perlu titik akhir, semua perlu ujung cerita.

Maaf jika kurang jelas, 
Terimakasih untuk kalian yang setia membaca rumah baca ini.

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥