Angin berhembus sejuk, dan langit berawan teduh. Duduk di ujung taman ditemani secangkir cappucino dan sebuah novel membuatku cukup nyaman. Mata jauh memandang taman hijau dengan background gedung pencakar langit yang berjajar rapi. Sejenak bayang-bayang seseorang terlintas di kepala,
"Tolong temani aku menyelesaikan semua ini"
tanpa berpikir panjang aku pun me-Iyakan permintaannya. Bayangan orang itu terlalu sering datang tanpa ucap permisi. Seorang laki-laki yang aku kagumi, entah sejak kapan. Awalnya aku hanya ingin menjadikannya teman, tapi waktu menjadikanku untuk selalu ada di sampingnya. Walau ia tak melakukan hal sama kepadaku.
"Aku berteman tidak pilih-pilih, seorang bajingan pun akan aku jadikan teman jika ia pantas untuk dijadikan teman. Lebih baik berteman dengan seorang bajingan daripada dengan orang yang luarnya baik tapi aslinya munafik. Hidup sudah rumit, jangan ditambah rumit apalagi cuma perihal teman. Kalau mau menerimaku menjadi teman ya terima aku apa adanya. Yang aku butuhkan seseorang yang bisa menerima aku, bukan sekedar baik tapi menusukku dari belakang"
"Arn, kan aku sudah bilang. Bukan aku yang protes dengan sifat dan sikapmu"
Aku merasa semua kalimat yang ia sampaikan ditujukan kepadaku. Oh Tuhan kesalahpahaman apa lagi ini.
111119

Menyenangkan sekali bermain dengan hati, memberi harap lalu meninggalkan. Dengan tenang datang dan pergi sesuka hati, mungkin kamu tidak pernah menyadari ada hati yang sedang terluka karenamu. Ada seorang perempuan yang mencoba menguatkan hatinya untuk menjauh darimu, dan disaat dia mulai lupa dengan keberadaanmu, kamu datang kembali. Datang dengan membawa seonggok harapan yang tidak mungkin ditolak. Perempuan bodoh itu mulai menerimamu kembali, mulai peduli denganmu lagi, mulai menuliskan kembali namamu dalam list orang-orang penting dalam hidupnya. Dan setelah itu, setelah kamu melambungkan harapnya begitu tinggi. Kamu menjatuhkannya kembali, dengan sekedar memperlihatkan bahwa kamu sedang bersama perempuan lain. Jika kamu masih terus seperti ini, kamu tidak pantas untuk disebut laki-laki. Kamu tau hati perempuan seperti apa, tapi masih suka bermain-main. Kamu tau, tapi kamu masih melukai. Dengan alibi bahwa perempuan-perempuan itulah yang terlalu menggunakan perasaan. Iya, benar memang. Perempuan-perempuan itu penuh perasaan dan kamu sama sekali tidak memiliki perasaan.
Cowok, paling suka menebar janji tanpa ada usaha untuk menepati.
Tuhan mempertemukan tidak selalu berakhir mempersatukan, bisa jadi hanya untuk ujian kesabaran. Atau Tuhan iri ciptaannya lebih berharap pada sesamanya dari pada penciptanya. Tuhan punya alur yang terbaik, Tuhan ialah sutradara terbaik untuk cerita hidup manusia.
It's Okay to Not Be Okay
Untuk seorang perempuan yang hanya mampu berharap dalam diam, dan terluka dalam diam. Baginya air mata ialah satu-satunya yang mampu menguatkan. Jika kamu perempuan, yakinlah kamu kuat menghadapi segalanya. Luka dan harap yang sering menghampirimu jangan sampai merubahmu menjadi perempuan yang tak berperasaan. Dan bila kamu laki-laki, percayalah tidak semua perempuan suka menyakiti. Kamu hanya salah berharap, dan tidak menyadari jika ada perempuan yang tulus menyayangimu dan peduli denganmu.
Selamat Malam
Menerima dan memberi adalah hal yang dianggap wajar. Tapi menikmati keindahan tanpa turut menjaga merupakan sebuah kepuasan. Bunga yang indah berawal dari bunga kuncup, dan berakhir dengan bunga yang layu kemudian gugur. Dari satu sisi semua tampak indah, tapi kita tak pernah tau bagaimana jika dipandang dari sisi lain. Apakah masih tampak indah? atau penuh luka?
Manusia sering beranggapan apa yang dilakukan merupakan hal baik, padahal mereka tidak tau ada atau tidak manusia lain yang merasa sakit. Sakit bukan hanya perihal fisik, tapi bisa mental ataupun hati. Sering kali ucapan dan perlakuan yang secara tidak langsung melukai mental dan hati. Yang terluka hanya mampu diam, tanpa menjelaskan. Karena untuk bertahan dalam hubungan yang tetap baik ia harus rela untuk menahan rasa sakit, dan sayangnya hal itu tidak disadari oleh semua manusia.
Keindahan tidak akan abadi, ia akan digantikan dengan hal yang kurang nyaman dipandang. Kebahagiaan juga tidak kekal, ia akan digantikan tangis. Hidup dalam sebuah ketidak jelasan memang melelahkan, tapi jika tidak merasakan lelah kapan manusia akan belajar bersabar? Tuhan lebih tau alur ceritanya, tentang siapa yang menemanimu sampai akhir, siapa yang menjadi tempatmu pulang, dan menjadikanmu rumah untuk berlindung serta mencari kenyamanan.
2020, hingga tahun ini banyak hal yang kita lalui bersama. Tapi hati belum merasa cukup, masih ada yang berongga didalam hati. Tentang kamu yang nyaman bermain-main dengan perasaan, dan aku yang terlalu bersabar untuk bertahan denganmu. Sudah ke-sekian kalinya kamu tiba-tiba menghilang, dan kemudian datang kembali. Mungkin tampak luar hati baik-baik saja, tapi siapa tau didalamnya hancur.