Selasa, 29 Desember 2020

Temu yang Lama Hilang

 


Tatapan mata yang lama menghilang dan sentuhan tangan yang lama tak menyapa, tanpa diharapkan datang tiba-tiba. Setelah sekian lama hati mampu berdamai dengan kata rindu, entah karena apa jumpa yang tak sengaja hari lalu mampu membangkitkan semuanya. Rindu. Sekian purnama rindu mampu untuk dikendalikan, tapi semua hancur saat pertemuan kala itu. Pertemuan yang mampu membangunkan kupu-kupu yang terlelap begitu lama. Bahagia dan kecewa berkumpul menjadi satu. Bahagia karena melihat ia baik-baik saja, dan kecewa ternyata temu dikala itu hanya untuk sesaat bahkan hanya beberapa detik saja. 

Apa tujuan semesta mempertemukan aku dan dia? 

Jika hanya untuk membuat hati patah kembali kenapa harus bertemu. Hati yang mulai membaik, entah kenapa kembali rapuh. Kembali pada harap yang tak pasti, sebuah harap yang pernah menjatuhkkan diri. Semesta menuliskan alur yang sulit dimengerti, bermain hati dengan hal yang tak pasti. Logika meminta untuk tak peduli, tapi hati tak mau untuk berhenti sampai disini. 

Pertemuan sesaat telah membangkitkan harapan yang telah lama terpendam. Ia juga mampu membangkitkan rindu yang lama padam. Entah apa rencana semesta, dan aku hanya mampu menikmati semua alurnya. Dan kamu, semoga selalu baik-baik saja.

Selasa, 15 Desember 2020

Harus Bagaimana?


Embun pagi, menggambarkan hidupan manusia di bumi. Ada yang menyukai ada yang membenci, manusia hidup juga seperti itu. Sebaik apapun manusia tetap ada yang membenci. Bahkan ada beberapa hal yang seharusnya tak dijadikan alasan untuk membenci, namun tetap dipaksa dijadikan alasan. Bentuk kepedulian sering kali dianggap terlalu ikut campur, kekhawatiran terkadang dianggap meremehkan. Hidup memang serba salah jika dipandang dari sudut orang lain. Kita ingin membantu tapi mereka tak ingin dibantu, kita ingin peduli tapi mereka enggan untuk dipedulikan. Banyak cerita yang menghampiri, bukan hanya satu atau dua ceritaku sendiri. Tapi ada beberapa cerita dari teman.

Aku menganggap apa yang aku lakukan ialah hal baik, namun aku khawatir orang lain tidak menganggap seperti itu.Ya, aku tahu ada beberapa waktu yang mengharuskan aku untuk pura-pura tidak tau, untuk pura-pura tidak khawatir. Namun semua itu tidak mudah, khawatirku terlalu berlebihan. Dari sini aku mencoba untuk bodoamat dengan orang lain, dengan kendala-kendala orang lain. Lalu ada saatnya semua itu tak dapat aku kendalikan, dan rasa khawatir itu muncul kembali. Maaf, cukup kata itu yang mampu aku ucapkan ketika tak mampu mengendalikan rasa khawatirku. 

Maaf, saat ini bukannya aku membiarkanmu. Aku bukan meninggalkanmu pergi jauh, aku hanya memberi jarak agar kamu tau aku pernah ada disini. Jika kamu masih saja tak menyadarinya, biarlah semesta yang membuatku sadar bahwa tempatku bukan disini.

Siapapun boleh peduli dengan orang lain, boleh berkorban untuk orang lain. Tapi jangan pernah lupa, untuk membahagiakan orang lain kamu perlu membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. 😗

Selasa, 24 November 2020

Harapku Salah



Jika harapku salah, mungkin aku harus terdiam. Diam, cukup menikmati yang ada di depan mata. dan berhenti untuk memaksakan takdir. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkanku, bahwa berharap dengan manusia akan berakhir dengan luka. Aku tau itu, dan sadar atas kesalahanku. Tapi siapa yang bisa mengendalikan arah hati? manusia hanya bisa mengkondisikan agar diri tak melakukan hal yang melampaui batas.

Mungkin aku memang harus pergi dari ke-duanya, atau mungkin ini balasan untukku karena pernah mengabaikan seseorang. Sungguh, tak pernah ada niatan untuk mengabaikan. Tapi hati tidak rela jika ada seseorang yang berharap denganku, tapi aku tak mengharapkannya. Aku tau sakitnya mengharapkan tanpa diharapkan kembali, maka dari itu aku tak mau orang lain mengalaminya. Kini aku yang merasakan sakit itu kembali, sakit karena harapanku sendiri.

Tuhan aku tau ini semua kehendakmu, tapi bolehkah aku memohon? biarkan aku berdamai dengan diriku sendiri, tanpa ada harapan untuk seseorang menemaniku di
masa depan.

Selasa, 10 November 2020

Harus Berhenti


     23 September 2020,  pada hari itu aku tersadar kembali. Tersadar atas harapan yang seharusnya tak aku berikan pada manusia. Karena berharap pada manusia pasti akan berakhir kecewa. Aku tau salah, tapi bukannya wajar jika aku ingin dihargai? bukankah wajar jika aku juga ingin dimengerti? bukan terus menerus mengerti orang lain. Iya aku memang berusaha bersikap baik ke siapapun, tapi tolong mengertilah. Aku bersikap baik ke kalian karena aku percaya kalian manusia-manusia yang baik, jadi jangan hancurkan kepercayaan itu. Sekalinya aku kecewa, hilang sudah kepedulianku.

    Aku tau, disini aku hanya dibutuhkan. Aku tau, sebenarnya keberadaanku tidak diharapkan. Jadi hal-hal kecil yang mungkin aku lakukan tak akan pernah terlihat. Iya, banyak hal kecil tak terlihat oleh manusia. Tapi aku yakin Tuhan-ku melihat itu semua, hal sekecil apapun itu. Jadi aku tidak akan menyerah untuk melakukan hal baik kepada siapapun, walau apa yang aku lakukan belum tentu dinilai baik oleh mereka.

    Semangat :)

Rabu, 28 Oktober 2020

Seharusnya Tak Berharap

    

Sudut pandang yang tersirat memaksa pikiran untuk mengabaikan, memaksa kepala untuk tidak memikirkannya. Karena hati berkata "dia tak akan hadir dimasa depanmu". Namun nyatanya dunia seakan mendorong pandangan masa lalu untuk hadir saat ini. Kurang lebih 3 tahun yang lalu, aku hanya memandangmu sebagai orang asing. Hingga satu tahun kemudian, kondisi mendorongku untuk sedikit menyisihkan waktu untukmu. Pada saat itu untuk pertama kalinya aku menyapamu lewat chat room, aneh ya? Sampai sekarang-pun aku juga masih bingung, kenapa waktu itu aku berani menghubungimu. Hanya ingin mengetahui alasan ketidak hadiranmu.

Awal tahun 2019. Berawal dari aku yang menawarkan rasa peduli kepadamu, kita jadi semakin sering berinteraksi. Entah itu dalam permasalahan yang harus diselesaikan, atau mengingatkan adanya tugas, ataupun sekedar saling membangunkan dari tidur. Semakin hari akupun semakin berpikir keras, "Kenapa aku menawarkan rasa peduli itu padamu? Kenapa aku merelakan sebagian waktuku untukmu?" ya,,, aku sendiri juga tidak tahu. Tapi itu terasa menyenangkan. Hingga pertengahan tahun 2019, saat itu intensitas komunikasi kita sedikit berkurang karena berbeda kesibukan. Dan lagi-lagi aku yang menawarkan rasa peduli untuk membangkitkan semangatmu dalam menyelesaikan pekerjaanmu. Yaaaa,,, seperti itulah aku.

Aku yang bertambah sibuk dan kamu sepertinya enggan untuk mencapai target, jadi waktu itu aku putuskan untuk membiarkanmu. Membiarkanmu bukan berarti aku melepaskan semua rasa peduliku, aku hanya memberi waktu untukmu berpikir. Awal tahun 2020, kamu semakin sibuk dan aku entah kenapa ingin sesekali menghubungimu. Ya, aku tau kamu tidak berniat untuk marah denganku. Tapi, ada sepatah dua patah kata yang sedikit menggangguku waktu itu. Jadi aku putuskan untuk tidak menghubungimu lagi. 

Pertengahan tahun 2020, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kita saling berkomunikasi kembali, ya walaupun memang ada keperluan. Ada hal yang harus kita bahas, dan sesuai janji aku akan selalu menemani sampai pekerjaanmu yang satu ini berakhir. Seringnya intensitas kita berkomunikasi sampai membuatmu tidak sadar jika kamu mulai membahas hal pribadi. Aku nyaman dengan itu semua, karena aku tipe orang yang senang mendengar cerita orang. Hingga 1 bulan kemudian, kisaran bulan Juli. Kamu sedikit membuat jarak, aku berpikir kamu memang sengaja menjauh karena tragedi yang tak seharusnya aku post di twitter. Atau memang kamu mulai bosan dengan-ku, ya itu bisa terjadi.
        
Bulan Agustus kita mulai komunikasi kembali, dengan hanya membahas hal yang perlu dibahas saja. Tidak ada bahasan tentang urusan pribadi lagi. Tidak apa, walau sebenarnya aku lebih suka jika kamu menceritakan semua hal padaku. Tapi bagaimana lagi jika inginmu seperti itu. Maaf saat kamu ingin istirahat aku sering mengganggumu, menceritakan banyak keluh kesah. Maaf jika aku memaksa hadirmu untuk selalu baik terhadapku. Maaf pula jika aku pernah berharap padamu, yaaa walau sekarang mulai terasa hambar.

Jumat, 20 Maret 2020

RUMIT


Banyak yang bilang hidup itu banyak drama, tapi sebagian banyak manusia bukannya menyederhanakan permasalahan tapi malah membuat masalah menjadi rumit dengan banyaknya drama. "HALU" sekarang sedang ramai sekali kata tersebut, mungkin karena semakin liarnya pikiran manusia. pikiran yang tak terkontrol oleh logika dan pikiran. Kadang saya bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan hidup para manusia penuh drama itu. Kenapa mereka tidak membatasi pemikiran-pemikiran yang terlalu liar. Bahkan mereka cenderung bangga dengan pemikiran liar mereka. Aneh, tapi begitulah adanya.

"HALU" sebagian besar manusia melakukan hal itu untuk membela diri, mempertahankan jati diri. Karena pada kehidupan yang sesungguhnya tidak ada manusia yang hidup tanpa topeng, manusia memendam banyak permasalahan yang enggan diketahui oleh banyak orang. Sehingga mereka menjadikan "HALU"  sebagai pelarian. Tidak salah memang, namun terkadang lebih baik berdamai dengan permasalahan yang sedang dihadapi daripada harus mencari pelarian. Mencari pelarian tidak akan menyelesaikan masalah, hanya melupakan untuk sesaat. Menumpuk masalah yang suatu saat bisa saja meledak, karena manusia punya batasan untuk memendam permasalahan. Hingga batasnya tiba, semua permasalahan, emosi, dan penat akan terlontar dalam wujud kata-kata kasar yang tidak seharusnya diucapkan.

Sebagian besar manusia sudah tau, jika hidup di dunia ini sebuah perjalanan bukan pelarian. Tapi masih saja banyak manusia yang berlari dari permasalahan. Sebagian manusia juga tau jika hidup di dunia ini hanya tempat bermain, namun tak sedikit orang yang takut untuk meninggalkan tempat bermainnya, selain itu banyak manusia yang menganggap permasalahan hidup di dunia adalah hal serius, lebih serius dari pada kehidupan berikutnya yang lebih kekal. Seakan-akan manusia lupa untuk apa ia hidup di dunia, dan apa kodratnya mereka sebagai manusia yang hidup di bumi.

Kamis, 06 Februari 2020

Terlalu Singkat


02 November 2019 pertama kalinya kamu menyapa kesepian hidupku, setelah lebih dari 6 tahun aku dan kamu saling hilang. Dulunya aku dan kamu adalah teman, dan sekarang kembali menjadi teman. Iya, kembali menjadi teman setelah berusaha menekan ego untuk saling mendekatkan diri. Namun nyatanya semua usaha itu sia-sia. Belum sempat terikat, tapi harus terlebih dahulu mengenal kata pisah. 

Berawal dari teman, lalu berkata nyaman dan tertarik untuk mengenal lebih dalam. 06 Desember 2019, mulai saat itu hati manusia rapuh ini mulai menggantung ke kamu. Awalnya mencoba membangun benteng agar tidak bergantung, tapi berkat perkataanmu yang selalu mampu menarik perhatianku. Akupun terjatuh, terjatuh dalam rasa nyaman yang abu-abu. Iya, dari awal aku ragu dan terus meyakinkan diri untuk mencoba sekali lagi, siapa tau berhasil. 

Perumpamaan tentang terjatuh dalam jurang-pun sempat mencuri pikiranku. Pemisalan tentang aku pernah terjatuh dalam jurang yang dalam kemudian aku berhasil naik ke permukaan yang aman setelah sekian lama. Apakah harus mencoba berpindah dari permukaan yang dirasa aman itu? ada yang bilang, aku perlu ke lembah, ke pantai, dan tempat indah lainnya. Dengan maksud, aku harus berpindah dari tempat yang telah aku anggap sebagai "zona aman". Aku harus mencoba turun dari permukaan itu, tapi bukan berarti jurang yang sama.

Dari situlah aku kembali menuruni "zona aman"-ku. Singkat cerita, muncullah drama-drama kecil yang semakin sering dan semakin membesar. Saling lelah, saling terluka, dan pada akhirnya saling menghindar. Aku mencoba bertahan namun kamu seolah berkata tidak, tapi tak berucap. Kamu takut mengetahuiku menangis, iya aku rapuh. Hanya karenamu, yang tak pernah bisa aku mengerti aku selalu merasa bersalah. Aku akan berusaha bertahan, sampai ada orang yang benar-benar sungguh denganku, atau kamu sungguh dengan orang yang baru.

Diamku bukan berarti ku tak peduli, mungkin lebih baik aku cukup melihatmu dari jauh. Terimakasih untuk kamu yang pernah membuatku bahagia, terimakasih telah memberiku pelajaran yang begitu berharga. Sabar 😊

Owh yaaa, aku baru sadar. Aku hanya penyembuh hatimu yang terluka. Lalu kini ketika hatiku terluka, aku sendirilah yang harus menyembuhkan.

(06/02/2020)

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥