Sabtu, 10 Februari 2018

Bahasa Rindu


Semanis senyum yang terukir dalam setiap kebahagiaan, sesakit sayatan pisau pada dada. Kamu tahu ada sejuta bahasa Rindu yang telah aku sampaikan untukmu, melalui hujan, melalui angin, dan melalui Dia. Namun kamu tidak pernah menganggap semua itu ada, yang kamu tahu hanya berjalan di atas awan tanpa menghiraukan yang lainnya. 

Ketika diri ini lelah dan mulai beranjak pergi, kamu datang kembali dengan setumpuk kata maaf. Kamu tahu? hati ini masih rapuh menghadapi kamu. Hati ini bimbang untuk kesekian kalinya, dan berakhir menerimamu kembali dalam hidupku. Sejuta luka yang telah kamu torehkan, telah hanyut terbawa aliran rasa peduliku untukmu. Lalu kamu hanya memanfaatkan semua itu ketika kamu kesepian, dan mengabaikanku kembali ketika kamu menemukan suatu yang baru, suatu yang lebih indah, dan sesuatu yang lebih menarik. Kamu datang dan pergi sesuka hati, tanpa permisi, tanpa sepatah kata pergi.

Kenapa saat kamu pergi aku selalu berpikir kalau kamu tidak punya hati, namun akhirnya selalu menerimamu kembali. Logika ini terlalu pandai untuk dibodohi hati, atau hati ini yang memaksa membawa egoku untuk menuju sakit hati kembali?.

Logikaku selalu menolakmu untuk kembali, namun hati berkata lain. Hingga diri ini tidak pernah jauh-jauh dari kata bimbang, sakit hati dan maaf. Mungkin hingga akhir hidupku nanti hanya tiga kata itu yang selalu terngiang dalam memori pikiran dan hatiku.

Untukmu pemberi luka yang abadi.

Kamis, 01 Februari 2018

Rasa Manis yang Lenyap

      
     Bodoh dengan hati, pikiran, dan rasa. Tentang harapan manis namun luka perih yang datang menghampiri. Kamu tahu? perkataan kasarmu menghapus semua kebaikan yang telah kamu lakukan padaku, semua telah hilang tergantikan oleh rasa sakit yang tidak akan terlupakan. Terimakasih telah mencela diriku, dengan itu aku lebih mudah melupakanmu, lebih mudah untuk menghapus semua tentang kamu. Aku tahu kamu masih berharap padanya, aku hanya kamu jadikan sebagai pelampiasan semata. Kamu hilang ketika merasa bosan. Berkatalah sejujurnya jika kamu merindukan dia, jangan hanya melampiaskan padaku. 

     Aku bangga dengan diriku sendiri, dan memang terkadang aku iri dengan orang lain tapi bukan berarti aku harus berubah menjadi orang lain. Lalu kamu, mencelaku karena tidak seperti dia? siapa kamu sehingga harus aku ikuti perkataanmu. Aku memang pernah menaruh hati padamu, namun semenjak saat itu hilang sudah semua rasa untukmu. Kamu bukan yang aku tahu, tentang topengmu yang jatuh atau memang aku yang selalu menganggapmu baik, aku tidak tahu. Aku hanya tahu, semua pemikiranku tentang kamu sudah tidak seperti dulu.

     Untuk kalian yang telah menyadarkan aku, dan yang selalu sabar mengingatkan aku untuk tidak percaya dengan dia. Aku sungguh Terimakasih. Maaf dulu aku tidak mendengarkan kalian, dan kini aku tahu apa yang kalian katakan memang benar.

     Terkadang rasa yang ada di dalam hati tidak harus diikuti, cukup diabaikan saja. Dan melodi tentang rindu lebih baik dirahasiakan, karena tidak semua orang mampu memahami dan mengerti kamu. Bersikap tidak peduli terkadang memang perlu, untuk menghindari rasa sakit dan kecewa.

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥