Semanis senyum yang terukir dalam setiap kebahagiaan, sesakit sayatan pisau pada dada. Kamu tahu ada sejuta bahasa Rindu yang telah aku sampaikan untukmu, melalui hujan, melalui angin, dan melalui Dia. Namun kamu tidak pernah menganggap semua itu ada, yang kamu tahu hanya berjalan di atas awan tanpa menghiraukan yang lainnya.
Ketika diri ini lelah dan mulai beranjak pergi, kamu datang kembali dengan setumpuk kata maaf. Kamu tahu? hati ini masih rapuh menghadapi kamu. Hati ini bimbang untuk kesekian kalinya, dan berakhir menerimamu kembali dalam hidupku. Sejuta luka yang telah kamu torehkan, telah hanyut terbawa aliran rasa peduliku untukmu. Lalu kamu hanya memanfaatkan semua itu ketika kamu kesepian, dan mengabaikanku kembali ketika kamu menemukan suatu yang baru, suatu yang lebih indah, dan sesuatu yang lebih menarik. Kamu datang dan pergi sesuka hati, tanpa permisi, tanpa sepatah kata pergi.
Kenapa saat kamu pergi aku selalu berpikir kalau kamu tidak punya hati, namun akhirnya selalu menerimamu kembali. Logika ini terlalu pandai untuk dibodohi hati, atau hati ini yang memaksa membawa egoku untuk menuju sakit hati kembali?.
Logikaku selalu menolakmu untuk kembali, namun hati berkata lain. Hingga diri ini tidak pernah jauh-jauh dari kata bimbang, sakit hati dan maaf. Mungkin hingga akhir hidupku nanti hanya tiga kata itu yang selalu terngiang dalam memori pikiran dan hatiku.
Untukmu pemberi luka yang abadi.

0 komentar:
Posting Komentar