Selasa, 05 Desember 2017

Diam dalam Bimbang

Diam, diam, dan diam. Tanpa diri ini sadari, tubuh dan pikiran terdiam dalam satu titik. Merenung untuk mengambil langkah pasti, terlalu lama hingga bosan. Aku tidak mengerti harus menulis apa, menulis tentang apa. Ada sejuta manik-manik yang sedang berputar-putar dikepala mungil ini. Terlalu banyak manik, hingga membuat setetes tinta pun tidak mampu untuk menembus. Lelah, fisik maupun pikiran. Ujung jalan masih panjang, masih ada jalan yang lebih terjal yang harus dilalui. Tubuh ini terasa menolak namun hati selalu berkata sabar. Ketika otak memaksa untuk istirahat, hati selalu berbisik "Cukupkan istirahatmu, jangan terlalu lama. Ujung jalanmu masih belum tampak." 

Menapaki jalan terjal selangkah demi langkah, mengais butiran tinta untuk menyongsong kesejahteraan masa depan. Lelah yang tak mampu diungkapkan akan menjadi kepuasan dalam keberhasilan. Hidupmu yang kamu sesali merupakan kehidupan yang orang lain harapkan. Terus bersyukur dalam berjuang. Lelahmu ibadahmu dan suksesmu keberkahan jalan hidupmu.

Jalan hidup tak ada yang tahu,
Hanya berjalan menyusuri angin berlalu,
Tanpa tahu kapan waktu berlalu,
Hingga air mata lelah, tiba-tiba menetes,
Berharap perjuangan segera berlalu,
dan menemui kehidupan baru.
Tanpa ada rasa sakit yang sungguh,

Aku mau,
Cukup menyambut ufuk pagi dari timur,
dan mengantar senja diujung barat,
Tersenyum diterpa angin semilir,
Menatap daun yang tak henti bergerak,
dan terdiam mendengar kicau burung udara.

Namun sayang keinginanmu dengan jalan yang telah ditentukan, berbeda.
Cukuplah berkata Terima Kasih.

Senin, 04 Desember 2017

Terulang Kembali

Kemarin kamu datang kembali dalam hidupku, dan aku tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya. Aku termakan lagi oleh kata manismu, aku terjatuh kembali dalam jurang hatimu yang menyakitkan. Aku rapuh untuk kesekian kalinya. Tidak mampu melepasmu dengan cepat, tidak mampu menghapusmu dalam ingatanku secara instan. Kenapa kamu harus datang jika hanya ingin menorehkan luka. Aku manusia biasa, bukan seorang yang spesial dan kuat. Aku mempunyai kelemahan, bisa hancur tanpa peduli waktu dan tempat. Kamu masih tega membuat hati ini tercabik untuk kedua kalinya. Kenapa kamu melakukan itu? berkatalah jujur. Jujur aku merindukanmu dalam diammu. Aku bahagia ketika kamu kembali kepadaku, namun aku sakit ketika kamu kembali menghempaskanku.

Aku sadar aku perempuan bodoh yang masih mengharapkan seseorang yang pernah menyakitiku. Otakku selalu memerintah fisik ini untuk pergi menjauh darimu, dan tidak lagi mengharapkanmu. Tetapi hatiku berkata sebaliknya, hatiku terus mengajak fisik ini semakin mendekat denganmu berharap denganmu lagi dan lagi. Walaupun sudah tahu akan ada lagi luka yang muncul, bahkan semakin dalam.

Bahagialah dengan jalanmu. Abaikan aku yang terombang-ambing dalam angin yang tidak mengerti arah. Jangan pernah kembali dengan hati ini yang sakit begitu parah. Kamu bahagia aku-pun bahagia. Karena bahagiaku adalah ketika melihat kamu bahagia. Aku akan mencoba bersabar dalam menghadapimu. Menghadapi seseorang yang begitu sering menyayat luka untukku dan kemudian pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

Terima kasih pernah singgah, dan terima kasih juga telah membuat hatiku semakin kuat.


Selasa, 28 November 2017

Rindu

Dalam diam ada air mata yang mengalir. Dalam sunyi ada rindu yang menyeruak. Untuk hari ini kisah cintaku masih belum sempurna, karena kamu belum berada disisiku. Namun aku masih mampu bahagia, karena tanpamu aku harus selalu bahagia. Duniaku tidak selalu bersamamu, bersama yang lain juga perlu. Bahagia untuk diri sendiri juga perlu. Cinta memang menyenangkan, namun terkadang cinta tidak tahu tempat dan kondisi untuk datang. Luka yang dalam tertutup cinta sesaat, dan berakhir menimbulkan luka yang lebih dalam. Terbiasa mendengar kisah "Ditinggal pergi ketika memasuki tahap sayang-sayangnya." Terlalu sering mendengar, dan sesekali berpengalaman. Untukmu, terima kasih pernah singgah dan terima kasih juga pernah menghempaskan serta memberi luka.

Saat ini rindu untukmu mulai tumbuh kembali, sejalan denganmu yang terkadang sedikit berkicau. Rindu kamu yang dulu pernah perhatikanku dibanyak waktu, dan rindu kamu yang selalu membuatku tersenyum. Rinduku merindukan kamu rindu aku. Rinduku merindukan disaat mendengar suara merdumu. Rinduku merindukanmu saat tertawa lepas tanpa sebab yang lucu. Rinduku merindukanmu yang pernah tersenyum karenaku dan untukku. Rindu itu semakin mengembang setiap waktu, tanpa tahu batasan tertentu.

Awan mendung tebal belum tentu akan turun hujan, seperti kamu yang dulu sangat perhatian tapi belum tentu mampu bertahan. Karena hati hanya akan bosan tanpa perkembangan, dan rasa sakit menunggu tidak akan lama bertahan. Meninggalkan merupakan satu-satunya jalan selain menunggu suatu yang menggantung tanpa kejelasan. Seperti rindu yang terasa hambar, karena rindu ini hanya aku yang merasakan.

Rindu Senyumu

Sabtu, 25 November 2017

Melodi Hati


Dalam melodi yang terlupakan,
Hati terkikis dalam detik berjumpa,
Jantung gempar dalam menit bertatap,
Fisik runtuh tak bertenaga dalam diam berhadapan,
Hanya otak yang memaksa untuk kuat,
Hanya melodi batin yang memaksa untuk bertahan.
Namun dunia tak mendukung keduanya.
Runtuh, hancur lebur dalam waktu sekejap.

Kamu yang menghadirkan kembali senyumku, dan kamu juga yang memberi luka yang semakin dalam.
Manarik ulur  hati ini.

Saat ini dunia memang berpihak denganmu,
Tapi ingat, suatu saat karma akan bermain denganmu.

Untuk sesaat luka itu memberatkan
Namun beriringan dengan jalannya waktu, luka itu pelan-pelan sirna.
Menyisakan rindu tersakiti.
Namun fisik ini menolak untuk tersakiti,
Otak, hati, dan fisik tak lagi sejalan
Karena kamu.

Luka


Ada banyak cerita yang pernah terukir bersama, mengikis ruang dan waktu yang saling berdampingan. Hampir semua orang pernah berpikir  dunia ini tidak adil, tapi setelah dicerna lebih dalam hanya dunia ini-lah yang paling adil. Hanya dunia ini yang memberikan kebahagiaan setelah adanya luka, dan hanya dunia ini yang menghadirkan senyuman lebar setelah rasa sakit yang bertubi-tubi. Terima kasih telah sayang dengan penghunimu, untuk Tuhan yang menciptakan segalanya tiada kata yang bisa tertuliskan. 

Dulu dia yang menyayangi telah Kau ambil, kau lebih sayang dengannya. Rasa syukur tiada tara karena Kau tidak memberi rasa sakit yang lebih lama. 

Ada banyak hal yang ingin diucapkan, namun tak tahu apa itu. Hati serasa lemah namun mencoba kuat. Jantung berdetak tidak aturan, rasa cemas terus meningkat. Rindu, telah lama tak bertemu dengannya dan kabar terakhir dia telah tiada. Memang bukan salah seorang, tapi tidak tahu dari ujung mana rasa kecewa sejenak hadir merisaukan keadaan. 

Ini bukan candaan, ini fakta yang telah terjadi. Ada luka yang harus disembuhkan, ada rindu yang harus dituntaskan. Semua perlu titik akhir, semua perlu ujung cerita.

Maaf jika kurang jelas, 
Terimakasih untuk kalian yang setia membaca rumah baca ini.

Kamis, 26 Oktober 2017

Lelah Tanpa Arti,


📷M.Astaf Tiyan

Tersenyum dalam keheningan
Merenung dalam keramaian
Berfikir sebelum bertindak
Penuh pertimbangan sebelum melangkah
Perlu kerja keras sebelum mencapai puncak
Harus berkorban untuk menuju kesuksesan

Untuk seorang manusia yang lemah, usaha setengah-setengah bukanlah solusinya
Usaha maksimal saja belum tentu mencapai tujuan yang diinginkan, apalagi setengah-setengah
Dunia akan adil dalam segala hal, hanya saja manusia yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang telah diterima
Kecukupan belum membawa mereka ke tingkat kepuasan

Rakus seperti tikus
Manusia hanyut dalam ego yang terus menuntut
Tanpa memikirkan salah, benar dan risiko setiap tindakan
Yang terpenting maju untuk membuat hidup lebih dari kata cukup
Manusia hancur, akibat ego yang tidak diatur
Ego meledak-ledak tanpa ada yang membatasi, tanpa ada yang mengarahkan
Mengalir sendiri hingga menuju akhir.

Untuk saat ini hati ini cukup bertahan melawan egomu
Cukup bersabar berdiri di tempat, sebelum beranjak meninggalkanmu
Tidak tahu pasti kapan kaki ini akan melangkah, berpindah tempat untuk mencari tempat bersandar yang lebih nyaman
Belum tahu kapan hati ini ikhlas untuk melepaskan, melepas semua yang hampir tergenggam
Yang menghilang karena ego yang tidak terjaga.

Hati ini masih saja menunggu, walaupun tahu rasa sakit akan terus tumbuh
Hati ini belum tahu bagaimana caranya untuk mencari yang baru, yang sepertimu atau lebih baik darimu
Hati ini hanya tahu bagaimana caranya untuk terus menunggu dan menunggu, hingga waktu berlalu
Dan kamu akan terhapus dari memoriku dengan berlalunya waktu.


Sabtu, 07 Oktober 2017

Tentang Batu dan Air

     Akan ada hari dimana air hujan jatuh tiap hari. Setiap hari, bukan setiap waktu. Mengalirkan dinginnya udara, dengan sejuta kenangan yang turut menguap. Mengemis sebuah cerita bahagia untuk menghentikan air yang terus mengalir. Tapi bagaimanapun air itu akan terus mengalir, jika ia tersumbat dalam satu sisi maka ia akan berbelok mencari jalan yang lain. Seperti halnya hati ini, jika hati ini sudah tidak mampu memasuki hatimu  yang telah kamu tutup rapat-rapat maka hati ini akan mencari hati yang lain. Hati yang sekiranya dapat diketuk atau dimasuki dengan lebih mudah. Terkadang yang instan lebih menyenangkan, dan yang banyak tantangan lebih melelahkan. Melelahkan mempercepat hadirnya kebosanan, dan kebosanan yang menimbulkan perpisahan.

    Cerita singkat saja, berteman jangan pilih-pilih. Tidak perlu kebanyakan baper dan tidak perlu menaruh harapan tinggi pada seseorang. Kamu akan jatuh mengenaskan jika berharap dengan manusia. Karena manusia tak pernah mampu memberi hasil yang pasti, hanya bentuk usaha saja.

     Cinta manusia lebih besar kesisi ego, bukan sisi saling mengerti. Sering ada cerita, mereka ditinggalkan ketika lagi sayang-sayangnya *mungkin untuk admin juga pernah mengalami sendiri. Mengapa selalu cerita itu yang menggema di segala pojok lingkungan. Mendengarkan saja sudah lelah, apa lagi melakukan. Cinta memang tidak bisa dipaksa, tapi cinta bisa dimengerti.

#singkatsaja

Minggu, 24 September 2017

Bahagiaku,

📷Nikho Setiawan

      Sejuk pagi dalam rapuhnya hati tak harus membawa hidup pada kesedihan. Sendiripun aku masih bisa bahagia, sendiripun aku masih bisa tersenyum. Sendiri aku mampu berjalan bebas. Dunia tak ada batas dalam menentukan sisi kebahagiaan. Ujung utara, selatan  atas, bawah  timur, barat  kanan maupun  kiri semua bebas dalam menentukan kebahagiaan. Walaupun hati sedang sendiri Dia masih terus menemani.
      Jalan hidup pilihanmu, kamu yang menentukan baik buruknya. Kamu yang menentukan di ujung mana akan bahagia. Kamu juga yang menentukan dengan cara mana untuk menggapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang bebas atau kebahagiaan yang sederhana, ataukah kebahagiaan yang tanpa batas namun menyakitkan. Semua kamu sendiri dan diriku sendiri yang menentukan jalan yang akan diambil, jalan yang menurut masing-masing dari kita yang terbaik.
      Jangan pernah ragu untuk mengambil langkah, kamu dan akun bukan kita dan juga bukan orang lain yang harus mengikuti setiap ucap, setiap kata yang dilontarkan orang lain, bahkan mungkin orang yang tak kita kenal sekalipun. Diri ini mempunyai pemilik sendiri, aku milikku dan kamu milikmu sendiri. Orang lain tak berhak menentukan arah jalanmu, tak berhak mengganggu keputusanmu. Mereka hanya berhak menasehatimu atau sekedar memberi saran, tak harus kamu ambil semua dalam memutuskan jalan namun perlu pertimbangan.

Sejuk air di pantai,
Mengubah alur nada hati,
Menyayat luka kering,
Kesendirian tanpa pendamping,

Takut,
Kesepian,
Terasa lemah dan rapuh,
Badai angin perusak jantung hati,

Mengukir kisah baru,
Menebar bunga untuk jalan yang baru,
Jalan yang lebih baik untuk hidup lebih tenang,
Bukan jalan menuju roman yang menyakitkan,
Tapi menuju kekalan yang sesungguhnya.

Sebatas harapan,
Sulit untuk jadi nyata, tanpa usaha yang lebih  nyata,
Untukmu, jangan letih berusaha
Tak ada yang sia-sia
Tak ada penyesalan,
Semua berjalan untuk yang terbaik.

Kamu dan aku, bukan kita
Belum pernah menjadi kita,
Mungkin tak kan menjadi kita.
Berdiri sendiri
Dua individu yang berbeda
Tanpa ikatan
Sampai jumpa, semoga hidup ke depan jadi lebih baik

L O V E   Y O U . . .

Sabtu, 16 September 2017

Tanpamu, aku rapuh




Dalam sudut pandangan mengalir setetes air mata. Aku tak bermaksud untuk lemah, namun air mata ini terus mengalir tanpa henti. Lelah itu pasti, tapi aku masih tidak tahu langkah apa yang harus aku ambil. Selain menunggu waktu berlalu, menunggu kamu lenyap dari fikiranku. Hanya kamu yang mampu membuatku seperti ini. Setiap orang datang dengan cara yang berbeda, dan pergi dengan cara yang berbeda pula. Tetapi, Cuma kamu yang datang dengan cara yang paling manis dan pergi dengan bekas yang paling sakit. Kalau diminta untuk memilih, lebih baik aku tak pernah dekat dengan kamu sejauh ini. Disatu sudut aku sedih pernah mengenalmu, disudut yang lain aku bersyukur kamu  pernah menjadi alasanku tersenyum dan tertawa.
Cerita tinggallah kepingan kenangan. Aku bimbang harus mengingatmu selamanya atau perlahan melupakanmu, dan tak pernah menganggapmu ada. Menjadi dua orang asing yang tak pernah saling bertegur sapa, atau menjadi dua orang yang pernah mengenal namun saling menyakiti. Mungkin aku yang terlalu banyak menyakitimu, hingga kamu mengatakan lelah menghadapiku. Bahkan untuk sepatah kata darimu, aku tak berhak menerima. Untuk sekecap kata saja kamu tak rela memberikan untukku, seburuk itu. Aku memang buruk, belum cukup dewasa untuk memahami sulitnya hidup. Belum cukup dewasa untuk menghargai posisi orang lain. Hanya mampu mengeluh seperti anak kecil, dan bermain-main tanpa henti.
Kamu sudah baik, namun aku masih banyak kesalahan. Kamu yang lebih baik, kamu  yang lebih dewasa. Terima kasih telah menyadarkanku tentang makna bersikap dewasa dan menghargai suatu hubungan. Terima kasih atas pelajaran yang rela kamu bagi. Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Untukmu yang masih selalu aku rindu, untukmu pula yang masih aku harapkan kedatanganmu.
Sudut mata terindah dalam senja,
Mengukir manis dalam relung jiwaku,
Namamu selalu membekas dalam dada,
Memberiku gejolak,
Membakar rasa ingin tahu,
Untuk hanya sekedar bahasa bulan,

Manis apa kabarmu?
Bolehkah aku merindumu?
Manis, bolehkah aku bertanya?
Masihkah ada rasa rindu di dadamu untukku?

Senyap,
Gejolak air laut terus mengalir dalam pelupuk mata,
Membuat gelombang semakin besar,
Menghancurkan pantai,
Menghancurkan gunung,
Menghancurkan benteng,
Meluruhkan benteng pertahanan,

Rapuh,
Hati ini rapuh dan meluruh,
Dulu menjulang setinggi gunung,
Kini hancur serata tanah,
Kamu pandai menghancurkan hidupku,
Cukup berkata manis,
Lalu pergi meninggalkanku, diam tanpa kata.

Hai tampan, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali? Bolehkah aku meminjam punggungmu untuk bersandar yang terakhir kali? Bolehkah aku meminjam dadamu untuk meluapkan air mata rasa sakit yang tak mampu aku tahan? Bolehkah aku bertemu denganmu sekali saja? Dan mengatakan aku merindukanmu. Lalu pergilah dengan kata manis, bukan pergi dengan diam tanpa sepatah kata.

Jumat, 15 September 2017

Menghapus Semua tentangmu dari Memoriku

   Sendu siang dan malam dari seorang perempuan, perempuan yang rapuh karena cinta. Seperti diriku yang telah kau singkirkan. Biasanya, aku mencari waktu luang untuk menghubungimu. Biasanya, aku mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara denganmu. Biasanya, aku mencari waktu yang tepat untuk bercanda denganmu berharap tak mengganggu kesibukanmu. Namun semua itu sia-sia, karena pada akhirnya aku hanyalah sebuah benalu dalam hidupmu, yang selalu mendatangkan kerugian bagimu. Mengganggumu setiap waktu, tanpa tau waktu.
   Kini semua telah berubah. Untuk mengetahui keadaanmu, aku tak mampu. Untuk bertanya bagaimana kabarmu, aku terlalu lemah, dan untuk tau sedang apa kau sekarang itu-pun aku tak berhak. Lelahmu menghadapiku, adalah rasa sakit karena egoisku. Berharap kamu kembali hanya sebuah mimpi, mimpi yang berakhir menjadi mimpi buruk. Aku tak mau mengemis cintamu, tapi aku berharap kau masih merindukanku. Seperti dulu...

Ada hati yang lelah,
Ada hati yang rapuh,
Hati yang selalu mengharapkanmu,
Berharap kamu ada disini,
Berharap kamu yang menghapus luka.
Berharap kamu yang memberikan dada untukku menumpahkan air mata.

Kamu,
Hanya kamu,
Cuma kamu yang saat ini aku rindukan,
Hanya seorang kamu,
Kamu yang menyimpan sebuah nama, entah siapa

Rindu ini masih untuk kamu,
Rindu ini masih menunggumu kembali,
Entah sampai kapan,
Tapi bukan selamanya,
Namun, aku berharap rindu ini tak menyakitimu,
Cukup aku yang sakit,
Cukup aku yang harus menangis,
Cukup aku yang menahan semua,
Cukup aku yang pura-pura tersenyum.

Jangan kamu,
Untukmu, berbahagialah
Bahagiamu, bahagiaku

Aku rindu senyum manismu
Aku rindu kata manismu
Tetaplah menjadi dirimu sendiri, yang selalu bersikap manis.

   Di pojok kota ini aku masih menunggu kamu menghubungiku, walaupun kamu telah melarangku untuk menunggumu. Walaupun kamu telah melarangku mengharapkanmu. Tapi, hatiku memaksa untuk menunggu. Hatiku memaksa untuk berharap, berharap kepadamu.
  Aku masih menunggumu hingga batas waktu yang tak pernah aku tahu...!

Selasa, 29 Agustus 2017

Senyumku,


📷Eko Wahyu Aryanto

Ada hati yang bahagia ketika kau berkata, ada ketenangan ketika kau bahagia. Ada kenikmatan yang besar ketika kau mau menghargai posisiku, keberadaanku, dan keadaanku. Berbagi kesedihan pun masih ada ketenangan dalam hati, karena respon manismu mampu mengalihkan kelelahanku dalam melewati permasalahan yang ada. Namun, di tengah berlalunya semua itu pasti ada kerikil yang terlempar di depan pandangan, ada bongkahan batu yang mampu merusak seribu kebahagian. Ketika itu bisa ternilai, mana yang akan bertahan hingga akhir ketulusannya dan mana yang hanya sebatas ketulusan tanpa arti sebenarnya. Hanya waktu yang bisa menjawab.

Ketika rindu meradang dan rasa cemburu yang memuncak, diriku hanya mampu terdiam. Menahan hujan kerikil yang tak tahu kapan akan berhenti, rasa sakit yang terus menerus menerjang. Rindu memaksa hujan air mata untuk segera turun. Dan cemburu memaksa untuk meluapkan emosi besar kepadamu. Namun apa yang harus aku lakukan jika diriku mulai tersadar, aku bukan siapa-siapa dan tak punya hak untuk melakukan itu semua. Lebih baik memendam semua yang ada dan memaksa senyum manis di depanmu, senyum penuh duka dan lara.

Inginku mengabaikan dan menghindarimu, namun hati ini tak mau beranjak dari namamu. Hanya namamu yang selalu tersimpan. Walaupun sering kau menorehkan luka, namun ada waktu sesaat yang mampu membuatku tersenyum. Rasa sakit dan luka akan segera hilang ketika kau mampu mengembalikan senyumku, hingga ku mampu mengabaikan sakit yang sangat dalam.Walaupun telah terluka sedalam jurang namun kehadiranmu dan senyummu mampu membawaku ke atas bintang.

Jumat, 18 Agustus 2017

Diammu, menyakitkan

📷Mohammad Mahbubbi
Kala embun pagi menetes dengan tenang, dan matahari mulai memancarkan kehangatan. Setangkai mawar hitam telah bertengger di ayunan depan rumah, ku mulai bertanya siapa gerangan yang sengaja meninggalkannya. Waktu semakin beranjak siang, dan sinar pun semakin menyilaukan. Namun, hati tetaplah bungkam. Bungkam dalam kesenduan, dan berharap engkau yang dulu kembali datang.

Telah sekian lama engkau pergi tanpa sepatah kata, diam lalu menghilang. Tersisa hati yang terluka, diam dan hening dalam rasa sakit yang ada. 

Engkau yang dulu penuh kasih, kini tinggallah cerita. Cerita yang tak pernah bisa ku hapus dari memori manisku. Mengabaikan saja ku tak mampu apalagi menghapus. Cerita itu terlalu manis untuk di kenang walaupun rasa sakit telah memenuhi dada. Dalam senja yang memerah ku tatap ombak pasang. Berharap kau muncul dari belakang, memeluk erat meluapkan rasa rindu yang bergejolak. 

Semua hanya tinggal cerita, engkau tetap pergi tanpa berniat untuk muncul kembali. Sebesar apapun harapan yang ku letakkan padamu, hanya akan menjadi harapan saja. Tanpa ada wujud yang pasti. Apakah kamu tahu sikap diammu memperdalam rasa sakit yang kurasa, lebih baik kau kembali sejenak untuk mengungkapkan amarahmu lalu berkata ingin pergi dariku. Bukan diam lalu menghilang.

Sikapmu menyakitiku.

Kamis, 17 Agustus 2017

Dalam hening hanya hati yang berbicara


Dalam hening hanya hati yang mampu berbicara.
Ketika rasa hanya mampu disimpan saja.
Tanpa harus ada yang tau.

Menangis disenja hari, merajut benang ketenangan.

Agar ia tak menjauh.
Dalam hati, air laut bergejolak tanpa henti.
Mengalir disetiap sudut luka yang tak mampu terobati.
Hanya dengan senyum yang indah, rasa sakit pada luka akan mereda.

Menunggumu yang tak kunjung datang.

Menanti dalam setiap waktu.

Mencari kapan waktu yang tepat untuk saling bertatap.

Cukup tersenyum



Cukup tersenyum, walaupun luka dalam sangat menyakitkan. Hati yang tak kunjung memberi makna. Hati yang hanya bungkam tanpa ada kepastian, berharap ia menghilang jauh dari pandangan. Namun, apa daya jika ia selalu bergandengan tangan. Berharap ia pergi jauh, menghilang dari sebuah kehidupan. Tapi apalah daya ia selalu berdiri beriringan. Saling menjaga dan berkomunikasi dengan baik, bahkan jauh lebih baik *mungkin. 
Cukup diam. 
Diam namun menahan. 
Menahan rasa sakit yang semakin dalam. 
Cukup diri ini yang tau. 
Bukan berburuk sangka, tapi kemungkinan ia akan menarikmu untuk kembali menuju kehidupannya itu sangat lah mungkin, dan tidak mustahil jika kamu menerima.

Cukup bersabar dalam sisi yang tak pernah ada kepastian.
Karena kehadiranku, hanya sebagai lelucon saja*mungkin.
Tanpa berniat untuk bersikap serius.
Hanya ingin bermain.
Bermain perasaan.
Bermain hati.
Bermain kata manis.

Maaf...
Ini bukan arena permainan.
Ada saatnya rasa sakit itu akan memberontak.
Meminta apa yang pernah kau katakan *walau hanya permainan.

Ada saatnya hati lelah untuk merasakan rasa sakit yang tak kunjung reda.
Ada saatnya hati lelah untuk dipermainkan.
Ada saatnya hati lelah untuk menerima kenyataan bahwa ia hanya ada di zona permainan.

Semua akan tiba pada waktunya, entah itu kapan.
Tapi hari itu akan segera datang.

Terimakasih telah memilihku untuk mengikuti permainan ini,,.
Cukup terhibur.
Dengan rasa sakit.

Ketenangan tanpa ujung


Ketenangan tanpa ujung berbalut senyum manis dengan harapan penuh kejutan di jalan menuju rumah, mengunci derita dalam sukma menggantikannya dengan canda tawa.
Tanpa merusak serpihan hati yang telah tersusun manis.
Mengambil setiap resiko untuk melangkah lebih mantab.
Menghilangkan keraguan yang merasuki hati terdalam, hingga terpenuhi hati ini dengan kepastian yang pasti.

Tanpa perlu keraguan, kecurigaan dan kekhawatiran..
Hanya berjalan melalui kotak hati yang tersimpan dalam dada, yang mampu menyampaikan potongan-potongan kata hanya untuknya.

Dalam sepucuk hati yang retak.
Akankah kepercayaan itu terus terbangun,
Jika rasa cuek, sikap cuek menyelimutimu,
Carilah teman yang mampu membawamu ke jalanmu yang sebenanrnya.

Keindahan dalam sunyi


Keindahan dalam sunyi kesendirian tak pernah mengalahkan keindahan dalam kebersamaan yang merekah,,
Sunyi dalam diri, hanya alibi untuk mendapat ketenangan yang lebih
Menutupi makna hati yang sesungguhnya,
Menutupi kata hati yang sebenarnya,
Hanya untuk terlihat lebih bahagia,

Dalam kesunyian hati yang terdalam,
Ada juta harapan berterbangan, 
Memancing kebahagiaan untuk melepas penat,
Dunia hanya sebatas pelampiasan kesibukan,
Yang seharusnya tak pernah keluar dari aturan yang harus di jalankan,
Namun, diri ini terlalu pengecut untuk mengakui sejuta kesalahan yang berlalu.

Bahagia sendiri, menyakitkan.
Bahagia bersama, lebih menyenangkan.
Kebahagiaan yang sesungguhnya ketika kita mampu membuat orang lain bahagia.

Bahagia itu Indah
💕💕💕

Melakukan tak semudah mengatakan



Melakukan tak semudah mengatakan,
Walaupun hanya mengungkapkan rasa sakitpun, terasa sangat sulit
Tak tahu bagaimana sakit itu akan berujung,
Kapan sakit itu akan berakhir.

Hanya memikirkan solusinya saja membuat rasa sakit itu semakin dalam,
Semakin dalam dan semakin tak mau bangkit dari-nya.

Hanya mampu melalui segalanya dengan beban sakit di dada,
Beban sakit yang mampu meremukkan tulang rusuk kapanpun saatnya.

Namun bagaimana tulang punggung mau menghindar jika tulang rusuk begitu dekat dengan punggung manismu.

Hanya mampu bersabar menghadapi segala kemungkinan,
Mati dengan rasa sakit yang tak terkira rasanya, atau hidup dengan rasa sakit yang tak pernah berhenti,
Rasa sakit yang tak akan pernah bisa dihindari, walaupun hanya sedetik pun.

Hanya mampu bersabar dan bersyukur dalam segala situasi yang ada.
Terus semangat dan terus menyibukkan diri, berharap rasa sakit itu terlupakan dengan sendirinya.
Menghindari waktu kosong agar rasa sakit tak muncul dalam otak kecil ini, walaupun hanya sedetik.

Karena melupakan rasa sakit ini tak semudah menggerakkan ujung jari telunjuk.
Sakit ini terus mengharapkanmu menyadari bahwa di dalam sana tumbuh subur rasa sakit karenamu. (Uttie voleta)

Sekedar Singgah



Sunyi dalam senja, hati ini terus berkata mengapa engkau tega. Berjalan mendekat pada hal yang lunak, kemudian engkau berlari begitu saja ketika ia telah melekatkan dirimu pada jiwanya. Bentuk fisikmu masih membekas jelas dalam kalbu. Tanpa menoleh untuk sedetik, tak ingin tahu separah apa kerusakan yang terjadi pada dia. 

Tak tahu apa yang terjadi pada dirimu, sikap pedulimu menghilang. Ku merindukanmu yang dulu, yang selalu peduli dan tahu tentang diriku apa adanya. Bukan engkau yang sekarang, terkesan tak mau tahu dan menerimaku ketika engkau bosan dengan yang lain. Lelah akan datang pada waktu yang tepat, ketika diri ini telah merasa hanya sebagai tempat singgah sementara. Tempat singgah untuk melepas penat sejenak,  kemudian melanjutkan kisah bersama yang lain.

Piring yang pecah tak akan bisa utuh kembali, begitu pula dengan hati yang telah kau kecewakan ini. Luka begitu dalam dan menyayat, tak tahu kapan ia akan pulih. Semua butuh waktu tak seperti dirimu yang sekedar singgah, rasa sakit ini menetap hingga ada yang lain datang untuk menghibur. Menghibur dan memberi kekuatan serta semangat untuk melewati rasa sakit karena kamu yang datang untuk sekedar singgah.

Hati ini bukan bandara buka juga parkiran yang akan di kunjungi oleh mereka yang ingin saja. Hati ini punya titik batas kesabaran, dan mempunyai kapasitas pengertian yang terbatas. Karena pemilik hati ini hanyalah seorang manusia yang tak sempurna, manusia yang mempunyai batas kemampuan.

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥