📷Eko Wahyu Aryanto
Ada hati yang bahagia ketika kau berkata, ada ketenangan ketika kau bahagia. Ada kenikmatan yang besar ketika kau mau menghargai posisiku, keberadaanku, dan keadaanku. Berbagi kesedihan pun masih ada ketenangan dalam hati, karena respon manismu mampu mengalihkan kelelahanku dalam melewati permasalahan yang ada. Namun, di tengah berlalunya semua itu pasti ada kerikil yang terlempar di depan pandangan, ada bongkahan batu yang mampu merusak seribu kebahagian. Ketika itu bisa ternilai, mana yang akan bertahan hingga akhir ketulusannya dan mana yang hanya sebatas ketulusan tanpa arti sebenarnya. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Ketika rindu meradang dan rasa cemburu yang memuncak, diriku hanya mampu terdiam. Menahan hujan kerikil yang tak tahu kapan akan berhenti, rasa sakit yang terus menerus menerjang. Rindu memaksa hujan air mata untuk segera turun. Dan cemburu memaksa untuk meluapkan emosi besar kepadamu. Namun apa yang harus aku lakukan jika diriku mulai tersadar, aku bukan siapa-siapa dan tak punya hak untuk melakukan itu semua. Lebih baik memendam semua yang ada dan memaksa senyum manis di depanmu, senyum penuh duka dan lara.
Inginku mengabaikan dan menghindarimu, namun hati ini tak mau beranjak dari namamu. Hanya namamu yang selalu tersimpan. Walaupun sering kau menorehkan luka, namun ada waktu sesaat yang mampu membuatku tersenyum. Rasa sakit dan luka akan segera hilang ketika kau mampu mengembalikan senyumku, hingga ku mampu mengabaikan sakit yang sangat dalam.Walaupun telah terluka sedalam jurang namun kehadiranmu dan senyummu mampu membawaku ke atas bintang.


0 komentar:
Posting Komentar