Jumat, 18 Agustus 2017

Diammu, menyakitkan

📷Mohammad Mahbubbi
Kala embun pagi menetes dengan tenang, dan matahari mulai memancarkan kehangatan. Setangkai mawar hitam telah bertengger di ayunan depan rumah, ku mulai bertanya siapa gerangan yang sengaja meninggalkannya. Waktu semakin beranjak siang, dan sinar pun semakin menyilaukan. Namun, hati tetaplah bungkam. Bungkam dalam kesenduan, dan berharap engkau yang dulu kembali datang.

Telah sekian lama engkau pergi tanpa sepatah kata, diam lalu menghilang. Tersisa hati yang terluka, diam dan hening dalam rasa sakit yang ada. 

Engkau yang dulu penuh kasih, kini tinggallah cerita. Cerita yang tak pernah bisa ku hapus dari memori manisku. Mengabaikan saja ku tak mampu apalagi menghapus. Cerita itu terlalu manis untuk di kenang walaupun rasa sakit telah memenuhi dada. Dalam senja yang memerah ku tatap ombak pasang. Berharap kau muncul dari belakang, memeluk erat meluapkan rasa rindu yang bergejolak. 

Semua hanya tinggal cerita, engkau tetap pergi tanpa berniat untuk muncul kembali. Sebesar apapun harapan yang ku letakkan padamu, hanya akan menjadi harapan saja. Tanpa ada wujud yang pasti. Apakah kamu tahu sikap diammu memperdalam rasa sakit yang kurasa, lebih baik kau kembali sejenak untuk mengungkapkan amarahmu lalu berkata ingin pergi dariku. Bukan diam lalu menghilang.

Sikapmu menyakitiku.

0 komentar:

Posting Komentar

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥