Tatapan mata yang lama menghilang dan sentuhan tangan yang lama tak menyapa, tanpa diharapkan datang tiba-tiba. Setelah sekian lama hati mampu berdamai dengan kata rindu, entah karena apa jumpa yang tak sengaja hari lalu mampu membangkitkan semuanya. Rindu. Sekian purnama rindu mampu untuk dikendalikan, tapi semua hancur saat pertemuan kala itu. Pertemuan yang mampu membangunkan kupu-kupu yang terlelap begitu lama. Bahagia dan kecewa berkumpul menjadi satu. Bahagia karena melihat ia baik-baik saja, dan kecewa ternyata temu dikala itu hanya untuk sesaat bahkan hanya beberapa detik saja.
Apa tujuan semesta mempertemukan aku dan dia?
Jika hanya untuk membuat hati patah kembali kenapa harus bertemu. Hati yang mulai membaik, entah kenapa kembali rapuh. Kembali pada harap yang tak pasti, sebuah harap yang pernah menjatuhkkan diri. Semesta menuliskan alur yang sulit dimengerti, bermain hati dengan hal yang tak pasti. Logika meminta untuk tak peduli, tapi hati tak mau untuk berhenti sampai disini.
Pertemuan sesaat telah membangkitkan harapan yang telah lama terpendam. Ia juga mampu membangkitkan rindu yang lama padam. Entah apa rencana semesta, dan aku hanya mampu menikmati semua alurnya. Dan kamu, semoga selalu baik-baik saja.
Embun pagi, menggambarkan hidupan manusia di bumi. Ada yang menyukai ada yang membenci, manusia hidup juga seperti itu. Sebaik apapun manusia tetap ada yang membenci. Bahkan ada beberapa hal yang seharusnya tak dijadikan alasan untuk membenci, namun tetap dipaksa dijadikan alasan. Bentuk kepedulian sering kali dianggap terlalu ikut campur, kekhawatiran terkadang dianggap meremehkan. Hidup memang serba salah jika dipandang dari sudut orang lain. Kita ingin membantu tapi mereka tak ingin dibantu, kita ingin peduli tapi mereka enggan untuk dipedulikan. Banyak cerita yang menghampiri, bukan hanya satu atau dua ceritaku sendiri. Tapi ada beberapa cerita dari teman.
Aku menganggap apa yang aku lakukan ialah hal baik, namun aku khawatir orang lain tidak menganggap seperti itu.Ya, aku tahu ada beberapa waktu yang mengharuskan aku untuk pura-pura tidak tau, untuk pura-pura tidak khawatir. Namun semua itu tidak mudah, khawatirku terlalu berlebihan. Dari sini aku mencoba untuk bodoamat dengan orang lain, dengan kendala-kendala orang lain. Lalu ada saatnya semua itu tak dapat aku kendalikan, dan rasa khawatir itu muncul kembali. Maaf, cukup kata itu yang mampu aku ucapkan ketika tak mampu mengendalikan rasa khawatirku.
Maaf, saat ini bukannya aku membiarkanmu. Aku bukan meninggalkanmu pergi jauh, aku hanya memberi jarak agar kamu tau aku pernah ada disini. Jika kamu masih saja tak menyadarinya, biarlah semesta yang membuatku sadar bahwa tempatku bukan disini.
Siapapun boleh peduli dengan orang lain, boleh berkorban untuk orang lain. Tapi jangan pernah lupa, untuk membahagiakan orang lain kamu perlu membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. 😗