Selasa, 29 Agustus 2017

Senyumku,


📷Eko Wahyu Aryanto

Ada hati yang bahagia ketika kau berkata, ada ketenangan ketika kau bahagia. Ada kenikmatan yang besar ketika kau mau menghargai posisiku, keberadaanku, dan keadaanku. Berbagi kesedihan pun masih ada ketenangan dalam hati, karena respon manismu mampu mengalihkan kelelahanku dalam melewati permasalahan yang ada. Namun, di tengah berlalunya semua itu pasti ada kerikil yang terlempar di depan pandangan, ada bongkahan batu yang mampu merusak seribu kebahagian. Ketika itu bisa ternilai, mana yang akan bertahan hingga akhir ketulusannya dan mana yang hanya sebatas ketulusan tanpa arti sebenarnya. Hanya waktu yang bisa menjawab.

Ketika rindu meradang dan rasa cemburu yang memuncak, diriku hanya mampu terdiam. Menahan hujan kerikil yang tak tahu kapan akan berhenti, rasa sakit yang terus menerus menerjang. Rindu memaksa hujan air mata untuk segera turun. Dan cemburu memaksa untuk meluapkan emosi besar kepadamu. Namun apa yang harus aku lakukan jika diriku mulai tersadar, aku bukan siapa-siapa dan tak punya hak untuk melakukan itu semua. Lebih baik memendam semua yang ada dan memaksa senyum manis di depanmu, senyum penuh duka dan lara.

Inginku mengabaikan dan menghindarimu, namun hati ini tak mau beranjak dari namamu. Hanya namamu yang selalu tersimpan. Walaupun sering kau menorehkan luka, namun ada waktu sesaat yang mampu membuatku tersenyum. Rasa sakit dan luka akan segera hilang ketika kau mampu mengembalikan senyumku, hingga ku mampu mengabaikan sakit yang sangat dalam.Walaupun telah terluka sedalam jurang namun kehadiranmu dan senyummu mampu membawaku ke atas bintang.

Jumat, 18 Agustus 2017

Diammu, menyakitkan

📷Mohammad Mahbubbi
Kala embun pagi menetes dengan tenang, dan matahari mulai memancarkan kehangatan. Setangkai mawar hitam telah bertengger di ayunan depan rumah, ku mulai bertanya siapa gerangan yang sengaja meninggalkannya. Waktu semakin beranjak siang, dan sinar pun semakin menyilaukan. Namun, hati tetaplah bungkam. Bungkam dalam kesenduan, dan berharap engkau yang dulu kembali datang.

Telah sekian lama engkau pergi tanpa sepatah kata, diam lalu menghilang. Tersisa hati yang terluka, diam dan hening dalam rasa sakit yang ada. 

Engkau yang dulu penuh kasih, kini tinggallah cerita. Cerita yang tak pernah bisa ku hapus dari memori manisku. Mengabaikan saja ku tak mampu apalagi menghapus. Cerita itu terlalu manis untuk di kenang walaupun rasa sakit telah memenuhi dada. Dalam senja yang memerah ku tatap ombak pasang. Berharap kau muncul dari belakang, memeluk erat meluapkan rasa rindu yang bergejolak. 

Semua hanya tinggal cerita, engkau tetap pergi tanpa berniat untuk muncul kembali. Sebesar apapun harapan yang ku letakkan padamu, hanya akan menjadi harapan saja. Tanpa ada wujud yang pasti. Apakah kamu tahu sikap diammu memperdalam rasa sakit yang kurasa, lebih baik kau kembali sejenak untuk mengungkapkan amarahmu lalu berkata ingin pergi dariku. Bukan diam lalu menghilang.

Sikapmu menyakitiku.

Kamis, 17 Agustus 2017

Dalam hening hanya hati yang berbicara


Dalam hening hanya hati yang mampu berbicara.
Ketika rasa hanya mampu disimpan saja.
Tanpa harus ada yang tau.

Menangis disenja hari, merajut benang ketenangan.

Agar ia tak menjauh.
Dalam hati, air laut bergejolak tanpa henti.
Mengalir disetiap sudut luka yang tak mampu terobati.
Hanya dengan senyum yang indah, rasa sakit pada luka akan mereda.

Menunggumu yang tak kunjung datang.

Menanti dalam setiap waktu.

Mencari kapan waktu yang tepat untuk saling bertatap.

Cukup tersenyum



Cukup tersenyum, walaupun luka dalam sangat menyakitkan. Hati yang tak kunjung memberi makna. Hati yang hanya bungkam tanpa ada kepastian, berharap ia menghilang jauh dari pandangan. Namun, apa daya jika ia selalu bergandengan tangan. Berharap ia pergi jauh, menghilang dari sebuah kehidupan. Tapi apalah daya ia selalu berdiri beriringan. Saling menjaga dan berkomunikasi dengan baik, bahkan jauh lebih baik *mungkin. 
Cukup diam. 
Diam namun menahan. 
Menahan rasa sakit yang semakin dalam. 
Cukup diri ini yang tau. 
Bukan berburuk sangka, tapi kemungkinan ia akan menarikmu untuk kembali menuju kehidupannya itu sangat lah mungkin, dan tidak mustahil jika kamu menerima.

Cukup bersabar dalam sisi yang tak pernah ada kepastian.
Karena kehadiranku, hanya sebagai lelucon saja*mungkin.
Tanpa berniat untuk bersikap serius.
Hanya ingin bermain.
Bermain perasaan.
Bermain hati.
Bermain kata manis.

Maaf...
Ini bukan arena permainan.
Ada saatnya rasa sakit itu akan memberontak.
Meminta apa yang pernah kau katakan *walau hanya permainan.

Ada saatnya hati lelah untuk merasakan rasa sakit yang tak kunjung reda.
Ada saatnya hati lelah untuk dipermainkan.
Ada saatnya hati lelah untuk menerima kenyataan bahwa ia hanya ada di zona permainan.

Semua akan tiba pada waktunya, entah itu kapan.
Tapi hari itu akan segera datang.

Terimakasih telah memilihku untuk mengikuti permainan ini,,.
Cukup terhibur.
Dengan rasa sakit.

Ketenangan tanpa ujung


Ketenangan tanpa ujung berbalut senyum manis dengan harapan penuh kejutan di jalan menuju rumah, mengunci derita dalam sukma menggantikannya dengan canda tawa.
Tanpa merusak serpihan hati yang telah tersusun manis.
Mengambil setiap resiko untuk melangkah lebih mantab.
Menghilangkan keraguan yang merasuki hati terdalam, hingga terpenuhi hati ini dengan kepastian yang pasti.

Tanpa perlu keraguan, kecurigaan dan kekhawatiran..
Hanya berjalan melalui kotak hati yang tersimpan dalam dada, yang mampu menyampaikan potongan-potongan kata hanya untuknya.

Dalam sepucuk hati yang retak.
Akankah kepercayaan itu terus terbangun,
Jika rasa cuek, sikap cuek menyelimutimu,
Carilah teman yang mampu membawamu ke jalanmu yang sebenanrnya.

Keindahan dalam sunyi


Keindahan dalam sunyi kesendirian tak pernah mengalahkan keindahan dalam kebersamaan yang merekah,,
Sunyi dalam diri, hanya alibi untuk mendapat ketenangan yang lebih
Menutupi makna hati yang sesungguhnya,
Menutupi kata hati yang sebenarnya,
Hanya untuk terlihat lebih bahagia,

Dalam kesunyian hati yang terdalam,
Ada juta harapan berterbangan, 
Memancing kebahagiaan untuk melepas penat,
Dunia hanya sebatas pelampiasan kesibukan,
Yang seharusnya tak pernah keluar dari aturan yang harus di jalankan,
Namun, diri ini terlalu pengecut untuk mengakui sejuta kesalahan yang berlalu.

Bahagia sendiri, menyakitkan.
Bahagia bersama, lebih menyenangkan.
Kebahagiaan yang sesungguhnya ketika kita mampu membuat orang lain bahagia.

Bahagia itu Indah
💕💕💕

Melakukan tak semudah mengatakan



Melakukan tak semudah mengatakan,
Walaupun hanya mengungkapkan rasa sakitpun, terasa sangat sulit
Tak tahu bagaimana sakit itu akan berujung,
Kapan sakit itu akan berakhir.

Hanya memikirkan solusinya saja membuat rasa sakit itu semakin dalam,
Semakin dalam dan semakin tak mau bangkit dari-nya.

Hanya mampu melalui segalanya dengan beban sakit di dada,
Beban sakit yang mampu meremukkan tulang rusuk kapanpun saatnya.

Namun bagaimana tulang punggung mau menghindar jika tulang rusuk begitu dekat dengan punggung manismu.

Hanya mampu bersabar menghadapi segala kemungkinan,
Mati dengan rasa sakit yang tak terkira rasanya, atau hidup dengan rasa sakit yang tak pernah berhenti,
Rasa sakit yang tak akan pernah bisa dihindari, walaupun hanya sedetik pun.

Hanya mampu bersabar dan bersyukur dalam segala situasi yang ada.
Terus semangat dan terus menyibukkan diri, berharap rasa sakit itu terlupakan dengan sendirinya.
Menghindari waktu kosong agar rasa sakit tak muncul dalam otak kecil ini, walaupun hanya sedetik.

Karena melupakan rasa sakit ini tak semudah menggerakkan ujung jari telunjuk.
Sakit ini terus mengharapkanmu menyadari bahwa di dalam sana tumbuh subur rasa sakit karenamu. (Uttie voleta)

Sekedar Singgah



Sunyi dalam senja, hati ini terus berkata mengapa engkau tega. Berjalan mendekat pada hal yang lunak, kemudian engkau berlari begitu saja ketika ia telah melekatkan dirimu pada jiwanya. Bentuk fisikmu masih membekas jelas dalam kalbu. Tanpa menoleh untuk sedetik, tak ingin tahu separah apa kerusakan yang terjadi pada dia. 

Tak tahu apa yang terjadi pada dirimu, sikap pedulimu menghilang. Ku merindukanmu yang dulu, yang selalu peduli dan tahu tentang diriku apa adanya. Bukan engkau yang sekarang, terkesan tak mau tahu dan menerimaku ketika engkau bosan dengan yang lain. Lelah akan datang pada waktu yang tepat, ketika diri ini telah merasa hanya sebagai tempat singgah sementara. Tempat singgah untuk melepas penat sejenak,  kemudian melanjutkan kisah bersama yang lain.

Piring yang pecah tak akan bisa utuh kembali, begitu pula dengan hati yang telah kau kecewakan ini. Luka begitu dalam dan menyayat, tak tahu kapan ia akan pulih. Semua butuh waktu tak seperti dirimu yang sekedar singgah, rasa sakit ini menetap hingga ada yang lain datang untuk menghibur. Menghibur dan memberi kekuatan serta semangat untuk melewati rasa sakit karena kamu yang datang untuk sekedar singgah.

Hati ini bukan bandara buka juga parkiran yang akan di kunjungi oleh mereka yang ingin saja. Hati ini punya titik batas kesabaran, dan mempunyai kapasitas pengertian yang terbatas. Karena pemilik hati ini hanyalah seorang manusia yang tak sempurna, manusia yang mempunyai batas kemampuan.

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥