Minggu, 24 September 2017

Bahagiaku,

📷Nikho Setiawan

      Sejuk pagi dalam rapuhnya hati tak harus membawa hidup pada kesedihan. Sendiripun aku masih bisa bahagia, sendiripun aku masih bisa tersenyum. Sendiri aku mampu berjalan bebas. Dunia tak ada batas dalam menentukan sisi kebahagiaan. Ujung utara, selatan  atas, bawah  timur, barat  kanan maupun  kiri semua bebas dalam menentukan kebahagiaan. Walaupun hati sedang sendiri Dia masih terus menemani.
      Jalan hidup pilihanmu, kamu yang menentukan baik buruknya. Kamu yang menentukan di ujung mana akan bahagia. Kamu juga yang menentukan dengan cara mana untuk menggapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang bebas atau kebahagiaan yang sederhana, ataukah kebahagiaan yang tanpa batas namun menyakitkan. Semua kamu sendiri dan diriku sendiri yang menentukan jalan yang akan diambil, jalan yang menurut masing-masing dari kita yang terbaik.
      Jangan pernah ragu untuk mengambil langkah, kamu dan akun bukan kita dan juga bukan orang lain yang harus mengikuti setiap ucap, setiap kata yang dilontarkan orang lain, bahkan mungkin orang yang tak kita kenal sekalipun. Diri ini mempunyai pemilik sendiri, aku milikku dan kamu milikmu sendiri. Orang lain tak berhak menentukan arah jalanmu, tak berhak mengganggu keputusanmu. Mereka hanya berhak menasehatimu atau sekedar memberi saran, tak harus kamu ambil semua dalam memutuskan jalan namun perlu pertimbangan.

Sejuk air di pantai,
Mengubah alur nada hati,
Menyayat luka kering,
Kesendirian tanpa pendamping,

Takut,
Kesepian,
Terasa lemah dan rapuh,
Badai angin perusak jantung hati,

Mengukir kisah baru,
Menebar bunga untuk jalan yang baru,
Jalan yang lebih baik untuk hidup lebih tenang,
Bukan jalan menuju roman yang menyakitkan,
Tapi menuju kekalan yang sesungguhnya.

Sebatas harapan,
Sulit untuk jadi nyata, tanpa usaha yang lebih  nyata,
Untukmu, jangan letih berusaha
Tak ada yang sia-sia
Tak ada penyesalan,
Semua berjalan untuk yang terbaik.

Kamu dan aku, bukan kita
Belum pernah menjadi kita,
Mungkin tak kan menjadi kita.
Berdiri sendiri
Dua individu yang berbeda
Tanpa ikatan
Sampai jumpa, semoga hidup ke depan jadi lebih baik

L O V E   Y O U . . .

Sabtu, 16 September 2017

Tanpamu, aku rapuh




Dalam sudut pandangan mengalir setetes air mata. Aku tak bermaksud untuk lemah, namun air mata ini terus mengalir tanpa henti. Lelah itu pasti, tapi aku masih tidak tahu langkah apa yang harus aku ambil. Selain menunggu waktu berlalu, menunggu kamu lenyap dari fikiranku. Hanya kamu yang mampu membuatku seperti ini. Setiap orang datang dengan cara yang berbeda, dan pergi dengan cara yang berbeda pula. Tetapi, Cuma kamu yang datang dengan cara yang paling manis dan pergi dengan bekas yang paling sakit. Kalau diminta untuk memilih, lebih baik aku tak pernah dekat dengan kamu sejauh ini. Disatu sudut aku sedih pernah mengenalmu, disudut yang lain aku bersyukur kamu  pernah menjadi alasanku tersenyum dan tertawa.
Cerita tinggallah kepingan kenangan. Aku bimbang harus mengingatmu selamanya atau perlahan melupakanmu, dan tak pernah menganggapmu ada. Menjadi dua orang asing yang tak pernah saling bertegur sapa, atau menjadi dua orang yang pernah mengenal namun saling menyakiti. Mungkin aku yang terlalu banyak menyakitimu, hingga kamu mengatakan lelah menghadapiku. Bahkan untuk sepatah kata darimu, aku tak berhak menerima. Untuk sekecap kata saja kamu tak rela memberikan untukku, seburuk itu. Aku memang buruk, belum cukup dewasa untuk memahami sulitnya hidup. Belum cukup dewasa untuk menghargai posisi orang lain. Hanya mampu mengeluh seperti anak kecil, dan bermain-main tanpa henti.
Kamu sudah baik, namun aku masih banyak kesalahan. Kamu yang lebih baik, kamu  yang lebih dewasa. Terima kasih telah menyadarkanku tentang makna bersikap dewasa dan menghargai suatu hubungan. Terima kasih atas pelajaran yang rela kamu bagi. Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Untukmu yang masih selalu aku rindu, untukmu pula yang masih aku harapkan kedatanganmu.
Sudut mata terindah dalam senja,
Mengukir manis dalam relung jiwaku,
Namamu selalu membekas dalam dada,
Memberiku gejolak,
Membakar rasa ingin tahu,
Untuk hanya sekedar bahasa bulan,

Manis apa kabarmu?
Bolehkah aku merindumu?
Manis, bolehkah aku bertanya?
Masihkah ada rasa rindu di dadamu untukku?

Senyap,
Gejolak air laut terus mengalir dalam pelupuk mata,
Membuat gelombang semakin besar,
Menghancurkan pantai,
Menghancurkan gunung,
Menghancurkan benteng,
Meluruhkan benteng pertahanan,

Rapuh,
Hati ini rapuh dan meluruh,
Dulu menjulang setinggi gunung,
Kini hancur serata tanah,
Kamu pandai menghancurkan hidupku,
Cukup berkata manis,
Lalu pergi meninggalkanku, diam tanpa kata.

Hai tampan, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali? Bolehkah aku meminjam punggungmu untuk bersandar yang terakhir kali? Bolehkah aku meminjam dadamu untuk meluapkan air mata rasa sakit yang tak mampu aku tahan? Bolehkah aku bertemu denganmu sekali saja? Dan mengatakan aku merindukanmu. Lalu pergilah dengan kata manis, bukan pergi dengan diam tanpa sepatah kata.

Jumat, 15 September 2017

Menghapus Semua tentangmu dari Memoriku

   Sendu siang dan malam dari seorang perempuan, perempuan yang rapuh karena cinta. Seperti diriku yang telah kau singkirkan. Biasanya, aku mencari waktu luang untuk menghubungimu. Biasanya, aku mencari kesempatan yang tepat untuk berbicara denganmu. Biasanya, aku mencari waktu yang tepat untuk bercanda denganmu berharap tak mengganggu kesibukanmu. Namun semua itu sia-sia, karena pada akhirnya aku hanyalah sebuah benalu dalam hidupmu, yang selalu mendatangkan kerugian bagimu. Mengganggumu setiap waktu, tanpa tau waktu.
   Kini semua telah berubah. Untuk mengetahui keadaanmu, aku tak mampu. Untuk bertanya bagaimana kabarmu, aku terlalu lemah, dan untuk tau sedang apa kau sekarang itu-pun aku tak berhak. Lelahmu menghadapiku, adalah rasa sakit karena egoisku. Berharap kamu kembali hanya sebuah mimpi, mimpi yang berakhir menjadi mimpi buruk. Aku tak mau mengemis cintamu, tapi aku berharap kau masih merindukanku. Seperti dulu...

Ada hati yang lelah,
Ada hati yang rapuh,
Hati yang selalu mengharapkanmu,
Berharap kamu ada disini,
Berharap kamu yang menghapus luka.
Berharap kamu yang memberikan dada untukku menumpahkan air mata.

Kamu,
Hanya kamu,
Cuma kamu yang saat ini aku rindukan,
Hanya seorang kamu,
Kamu yang menyimpan sebuah nama, entah siapa

Rindu ini masih untuk kamu,
Rindu ini masih menunggumu kembali,
Entah sampai kapan,
Tapi bukan selamanya,
Namun, aku berharap rindu ini tak menyakitimu,
Cukup aku yang sakit,
Cukup aku yang harus menangis,
Cukup aku yang menahan semua,
Cukup aku yang pura-pura tersenyum.

Jangan kamu,
Untukmu, berbahagialah
Bahagiamu, bahagiaku

Aku rindu senyum manismu
Aku rindu kata manismu
Tetaplah menjadi dirimu sendiri, yang selalu bersikap manis.

   Di pojok kota ini aku masih menunggu kamu menghubungiku, walaupun kamu telah melarangku untuk menunggumu. Walaupun kamu telah melarangku mengharapkanmu. Tapi, hatiku memaksa untuk menunggu. Hatiku memaksa untuk berharap, berharap kepadamu.
  Aku masih menunggumu hingga batas waktu yang tak pernah aku tahu...!

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥