Sabtu, 16 September 2017

Tanpamu, aku rapuh




Dalam sudut pandangan mengalir setetes air mata. Aku tak bermaksud untuk lemah, namun air mata ini terus mengalir tanpa henti. Lelah itu pasti, tapi aku masih tidak tahu langkah apa yang harus aku ambil. Selain menunggu waktu berlalu, menunggu kamu lenyap dari fikiranku. Hanya kamu yang mampu membuatku seperti ini. Setiap orang datang dengan cara yang berbeda, dan pergi dengan cara yang berbeda pula. Tetapi, Cuma kamu yang datang dengan cara yang paling manis dan pergi dengan bekas yang paling sakit. Kalau diminta untuk memilih, lebih baik aku tak pernah dekat dengan kamu sejauh ini. Disatu sudut aku sedih pernah mengenalmu, disudut yang lain aku bersyukur kamu  pernah menjadi alasanku tersenyum dan tertawa.
Cerita tinggallah kepingan kenangan. Aku bimbang harus mengingatmu selamanya atau perlahan melupakanmu, dan tak pernah menganggapmu ada. Menjadi dua orang asing yang tak pernah saling bertegur sapa, atau menjadi dua orang yang pernah mengenal namun saling menyakiti. Mungkin aku yang terlalu banyak menyakitimu, hingga kamu mengatakan lelah menghadapiku. Bahkan untuk sepatah kata darimu, aku tak berhak menerima. Untuk sekecap kata saja kamu tak rela memberikan untukku, seburuk itu. Aku memang buruk, belum cukup dewasa untuk memahami sulitnya hidup. Belum cukup dewasa untuk menghargai posisi orang lain. Hanya mampu mengeluh seperti anak kecil, dan bermain-main tanpa henti.
Kamu sudah baik, namun aku masih banyak kesalahan. Kamu yang lebih baik, kamu  yang lebih dewasa. Terima kasih telah menyadarkanku tentang makna bersikap dewasa dan menghargai suatu hubungan. Terima kasih atas pelajaran yang rela kamu bagi. Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Untukmu yang masih selalu aku rindu, untukmu pula yang masih aku harapkan kedatanganmu.
Sudut mata terindah dalam senja,
Mengukir manis dalam relung jiwaku,
Namamu selalu membekas dalam dada,
Memberiku gejolak,
Membakar rasa ingin tahu,
Untuk hanya sekedar bahasa bulan,

Manis apa kabarmu?
Bolehkah aku merindumu?
Manis, bolehkah aku bertanya?
Masihkah ada rasa rindu di dadamu untukku?

Senyap,
Gejolak air laut terus mengalir dalam pelupuk mata,
Membuat gelombang semakin besar,
Menghancurkan pantai,
Menghancurkan gunung,
Menghancurkan benteng,
Meluruhkan benteng pertahanan,

Rapuh,
Hati ini rapuh dan meluruh,
Dulu menjulang setinggi gunung,
Kini hancur serata tanah,
Kamu pandai menghancurkan hidupku,
Cukup berkata manis,
Lalu pergi meninggalkanku, diam tanpa kata.

Hai tampan, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali? Bolehkah aku meminjam punggungmu untuk bersandar yang terakhir kali? Bolehkah aku meminjam dadamu untuk meluapkan air mata rasa sakit yang tak mampu aku tahan? Bolehkah aku bertemu denganmu sekali saja? Dan mengatakan aku merindukanmu. Lalu pergilah dengan kata manis, bukan pergi dengan diam tanpa sepatah kata.

0 komentar:

Posting Komentar

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥