Dalam sudut pandangan mengalir setetes air mata. Aku tak bermaksud untuk
lemah, namun air mata ini terus mengalir tanpa henti. Lelah itu pasti, tapi aku
masih tidak tahu langkah apa yang harus aku ambil. Selain menunggu waktu
berlalu, menunggu kamu lenyap dari fikiranku. Hanya kamu yang mampu membuatku
seperti ini. Setiap orang datang dengan cara yang berbeda, dan pergi dengan cara yang berbeda pula. Tetapi,
Cuma kamu yang datang dengan cara yang paling manis dan pergi dengan bekas yang
paling sakit. Kalau diminta untuk memilih, lebih baik aku tak pernah dekat
dengan kamu sejauh ini. Disatu sudut aku sedih pernah mengenalmu, disudut yang
lain aku bersyukur kamu pernah menjadi
alasanku tersenyum dan tertawa.
Cerita tinggallah kepingan kenangan. Aku bimbang harus mengingatmu
selamanya atau perlahan melupakanmu, dan tak pernah menganggapmu ada. Menjadi dua
orang asing yang tak pernah saling bertegur sapa, atau menjadi dua orang yang
pernah mengenal namun saling menyakiti. Mungkin aku yang terlalu banyak
menyakitimu, hingga kamu mengatakan lelah menghadapiku. Bahkan untuk sepatah
kata darimu, aku tak berhak menerima. Untuk sekecap kata saja kamu tak rela memberikan
untukku, seburuk itu. Aku memang buruk, belum cukup dewasa untuk memahami
sulitnya hidup. Belum cukup dewasa untuk menghargai posisi orang lain. Hanya mampu
mengeluh seperti anak kecil, dan bermain-main tanpa henti.
Kamu sudah baik, namun aku masih banyak kesalahan. Kamu yang lebih baik,
kamu yang lebih dewasa. Terima kasih telah
menyadarkanku tentang makna bersikap dewasa dan menghargai suatu hubungan. Terima kasih
atas pelajaran yang rela kamu bagi. Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Untukmu
yang masih selalu aku rindu, untukmu pula yang masih aku harapkan kedatanganmu.
Sudut mata terindah dalam
senja,
Mengukir manis dalam relung
jiwaku,
Namamu selalu membekas
dalam dada,
Memberiku gejolak,
Membakar rasa ingin tahu,
Untuk hanya sekedar bahasa
bulan,
Manis apa kabarmu?
Bolehkah aku merindumu?
Manis, bolehkah aku
bertanya?
Masihkah ada rasa rindu di
dadamu untukku?
Senyap,
Gejolak air laut terus
mengalir dalam pelupuk mata,
Membuat gelombang semakin
besar,
Menghancurkan pantai,
Menghancurkan gunung,
Menghancurkan benteng,
Meluruhkan benteng
pertahanan,
Rapuh,
Hati ini rapuh dan meluruh,
Dulu menjulang setinggi
gunung,
Kini hancur serata
tanah,
Kamu pandai menghancurkan
hidupku,
Cukup berkata manis,
Lalu pergi meninggalkanku,
diam tanpa kata.
Hai tampan, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali? Bolehkah aku
meminjam punggungmu untuk bersandar yang terakhir kali? Bolehkah aku meminjam
dadamu untuk meluapkan air mata rasa sakit yang tak mampu aku tahan? Bolehkah aku
bertemu denganmu sekali saja? Dan mengatakan aku merindukanmu. Lalu pergilah
dengan kata manis, bukan pergi dengan diam tanpa sepatah kata.


0 komentar:
Posting Komentar