Embun pagi, menggambarkan hidupan manusia di bumi. Ada yang menyukai ada yang membenci, manusia hidup juga seperti itu. Sebaik apapun manusia tetap ada yang membenci. Bahkan ada beberapa hal yang seharusnya tak dijadikan alasan untuk membenci, namun tetap dipaksa dijadikan alasan. Bentuk kepedulian sering kali dianggap terlalu ikut campur, kekhawatiran terkadang dianggap meremehkan. Hidup memang serba salah jika dipandang dari sudut orang lain. Kita ingin membantu tapi mereka tak ingin dibantu, kita ingin peduli tapi mereka enggan untuk dipedulikan. Banyak cerita yang menghampiri, bukan hanya satu atau dua ceritaku sendiri. Tapi ada beberapa cerita dari teman.
Aku menganggap apa yang aku lakukan ialah hal baik, namun aku khawatir orang lain tidak menganggap seperti itu.Ya, aku tahu ada beberapa waktu yang mengharuskan aku untuk pura-pura tidak tau, untuk pura-pura tidak khawatir. Namun semua itu tidak mudah, khawatirku terlalu berlebihan. Dari sini aku mencoba untuk bodoamat dengan orang lain, dengan kendala-kendala orang lain. Lalu ada saatnya semua itu tak dapat aku kendalikan, dan rasa khawatir itu muncul kembali. Maaf, cukup kata itu yang mampu aku ucapkan ketika tak mampu mengendalikan rasa khawatirku.
Maaf, saat ini bukannya aku membiarkanmu. Aku bukan meninggalkanmu pergi jauh, aku hanya memberi jarak agar kamu tau aku pernah ada disini. Jika kamu masih saja tak menyadarinya, biarlah semesta yang membuatku sadar bahwa tempatku bukan disini.
Siapapun boleh peduli dengan orang lain, boleh berkorban untuk orang lain. Tapi jangan pernah lupa, untuk membahagiakan orang lain kamu perlu membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. 😗


0 komentar:
Posting Komentar