Selasa, 24 November 2020

Harapku Salah



Jika harapku salah, mungkin aku harus terdiam. Diam, cukup menikmati yang ada di depan mata. dan berhenti untuk memaksakan takdir. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkanku, bahwa berharap dengan manusia akan berakhir dengan luka. Aku tau itu, dan sadar atas kesalahanku. Tapi siapa yang bisa mengendalikan arah hati? manusia hanya bisa mengkondisikan agar diri tak melakukan hal yang melampaui batas.

Mungkin aku memang harus pergi dari ke-duanya, atau mungkin ini balasan untukku karena pernah mengabaikan seseorang. Sungguh, tak pernah ada niatan untuk mengabaikan. Tapi hati tidak rela jika ada seseorang yang berharap denganku, tapi aku tak mengharapkannya. Aku tau sakitnya mengharapkan tanpa diharapkan kembali, maka dari itu aku tak mau orang lain mengalaminya. Kini aku yang merasakan sakit itu kembali, sakit karena harapanku sendiri.

Tuhan aku tau ini semua kehendakmu, tapi bolehkah aku memohon? biarkan aku berdamai dengan diriku sendiri, tanpa ada harapan untuk seseorang menemaniku di
masa depan.

0 komentar:

Posting Komentar

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥