Rabu, 28 Oktober 2020

Seharusnya Tak Berharap

    

Sudut pandang yang tersirat memaksa pikiran untuk mengabaikan, memaksa kepala untuk tidak memikirkannya. Karena hati berkata "dia tak akan hadir dimasa depanmu". Namun nyatanya dunia seakan mendorong pandangan masa lalu untuk hadir saat ini. Kurang lebih 3 tahun yang lalu, aku hanya memandangmu sebagai orang asing. Hingga satu tahun kemudian, kondisi mendorongku untuk sedikit menyisihkan waktu untukmu. Pada saat itu untuk pertama kalinya aku menyapamu lewat chat room, aneh ya? Sampai sekarang-pun aku juga masih bingung, kenapa waktu itu aku berani menghubungimu. Hanya ingin mengetahui alasan ketidak hadiranmu.

Awal tahun 2019. Berawal dari aku yang menawarkan rasa peduli kepadamu, kita jadi semakin sering berinteraksi. Entah itu dalam permasalahan yang harus diselesaikan, atau mengingatkan adanya tugas, ataupun sekedar saling membangunkan dari tidur. Semakin hari akupun semakin berpikir keras, "Kenapa aku menawarkan rasa peduli itu padamu? Kenapa aku merelakan sebagian waktuku untukmu?" ya,,, aku sendiri juga tidak tahu. Tapi itu terasa menyenangkan. Hingga pertengahan tahun 2019, saat itu intensitas komunikasi kita sedikit berkurang karena berbeda kesibukan. Dan lagi-lagi aku yang menawarkan rasa peduli untuk membangkitkan semangatmu dalam menyelesaikan pekerjaanmu. Yaaaa,,, seperti itulah aku.

Aku yang bertambah sibuk dan kamu sepertinya enggan untuk mencapai target, jadi waktu itu aku putuskan untuk membiarkanmu. Membiarkanmu bukan berarti aku melepaskan semua rasa peduliku, aku hanya memberi waktu untukmu berpikir. Awal tahun 2020, kamu semakin sibuk dan aku entah kenapa ingin sesekali menghubungimu. Ya, aku tau kamu tidak berniat untuk marah denganku. Tapi, ada sepatah dua patah kata yang sedikit menggangguku waktu itu. Jadi aku putuskan untuk tidak menghubungimu lagi. 

Pertengahan tahun 2020, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kita saling berkomunikasi kembali, ya walaupun memang ada keperluan. Ada hal yang harus kita bahas, dan sesuai janji aku akan selalu menemani sampai pekerjaanmu yang satu ini berakhir. Seringnya intensitas kita berkomunikasi sampai membuatmu tidak sadar jika kamu mulai membahas hal pribadi. Aku nyaman dengan itu semua, karena aku tipe orang yang senang mendengar cerita orang. Hingga 1 bulan kemudian, kisaran bulan Juli. Kamu sedikit membuat jarak, aku berpikir kamu memang sengaja menjauh karena tragedi yang tak seharusnya aku post di twitter. Atau memang kamu mulai bosan dengan-ku, ya itu bisa terjadi.
        
Bulan Agustus kita mulai komunikasi kembali, dengan hanya membahas hal yang perlu dibahas saja. Tidak ada bahasan tentang urusan pribadi lagi. Tidak apa, walau sebenarnya aku lebih suka jika kamu menceritakan semua hal padaku. Tapi bagaimana lagi jika inginmu seperti itu. Maaf saat kamu ingin istirahat aku sering mengganggumu, menceritakan banyak keluh kesah. Maaf jika aku memaksa hadirmu untuk selalu baik terhadapku. Maaf pula jika aku pernah berharap padamu, yaaa walau sekarang mulai terasa hambar.

0 komentar:

Posting Komentar

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥