Angin berhembus sejuk, dan langit berawan teduh. Duduk di ujung taman ditemani secangkir cappucino dan sebuah novel membuatku cukup nyaman. Mata jauh memandang taman hijau dengan background gedung pencakar langit yang berjajar rapi. Sejenak bayang-bayang seseorang terlintas di kepala,
"Tolong temani aku menyelesaikan semua ini"
tanpa berpikir panjang aku pun me-Iyakan permintaannya. Bayangan orang itu terlalu sering datang tanpa ucap permisi. Seorang laki-laki yang aku kagumi, entah sejak kapan. Awalnya aku hanya ingin menjadikannya teman, tapi waktu menjadikanku untuk selalu ada di sampingnya. Walau ia tak melakukan hal sama kepadaku.
"Aku berteman tidak pilih-pilih, seorang bajingan pun akan aku jadikan teman jika ia pantas untuk dijadikan teman. Lebih baik berteman dengan seorang bajingan daripada dengan orang yang luarnya baik tapi aslinya munafik. Hidup sudah rumit, jangan ditambah rumit apalagi cuma perihal teman. Kalau mau menerimaku menjadi teman ya terima aku apa adanya. Yang aku butuhkan seseorang yang bisa menerima aku, bukan sekedar baik tapi menusukku dari belakang"
"Arn, kan aku sudah bilang. Bukan aku yang protes dengan sifat dan sikapmu"
Aku merasa semua kalimat yang ia sampaikan ditujukan kepadaku. Oh Tuhan kesalahpahaman apa lagi ini.
111119


0 komentar:
Posting Komentar