Selasa, 03 April 2018

Selembar Kertas Bernoda Darah

Kamu tahu bahasa Rindu?
Aku rindu kamu, tapi aku sadar rinduku salah jika aku sampaikan untukmu. Aku bukan lagi manusia di hadapanmu, dan aku tidak lagi ingin membuat masalah dengan orang lain. Aku masih bisa bahagia tanpa kamu, masih bisa bahagia walau memendam rindu untukmu. 

Selembar kertas yang aku simpan untukmu kini ternodai oleh darah yang mengalir dari hidung manisku, inginku suatu saat memberikan kertas itu untukmu. Menulis kisah indah bersama. Namun ternyata itu hanya sebuah angan yang tidak akan bisa terwujud. Sebab itu, aku mulai berjalan mundur. Bukan maksudku untuk menyerah berjalan maju, tapi ada saatnya luka yang penuh darah memaksaku untuk berjalan mundur, agar aku bisa bertahan hidup.

Di luar sana masih banyak orang yang bertahan hidup karena senyumku, jadi aku harus terus tersenyum. Harus terus bertahan walaupun banyak luka yang berdatangan. Luka yang berdatangan merupakan sebuah proses menuju pendewasaan, aku tidak akan berlari dari luka itu. Karena menikmati luka lebih menyenangkan, lebih memberi ketenangan. Bersyukur sekali diri ini masih bisa merasakan rasa sakit, bagaimana jika salah satu dari kalian ada yang mempunyai penyakit tidak bisa merasakan rasa sakit? Mungkin menurut kalian menyenangkan, karena kalian belum pernah merasakan. Coba saja kalian berharap mendapat penyakit tersebut.

Dunia ini penuh dengan drama, banyak orang iri dengan posisi orang lain. Saling iri dengan pendapatan orang lain. Daripada membuang energi untuk iri terhadap orang lain, kenapa tidak mereka gunakan untuk bersyukur. Banyak yang tahu bersyukur itu lebih memberi ketenangan, lebih mengukir banyak senyum tulus.

Walaupun kertas yang telah aku siapkan untuk kita (aku dan kamu) untuk menulis kisah bersama telah ternodai oleh darah, aku tidak pernah khawatir. Aku akan menyiapkan kertas yang baru, yang lebih bersih untuk kita (aku dan dia). Semoga kamu bahagia 😊

0 komentar:

Posting Komentar

About me


Saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus

-Mutia Aris Pradina-

Mutia Aris Pradina

Seorang wanita penikmat kopi dan sayur bening yang lahir pada bulan Juni. Juga seorang penyuka langit, bintang, hujan, dan senja. Sangat benci dengan kata "Oh dan Hmm" ♥